October 17, 2026

Indonesia Walk for Peace 2026: Langkah Sunyi Para Bhikkhu Membawa Pesan Damai untuk Indonesia

0



Jefri Hadi
– 15 May 2026 | 21:05 – Dibaca 104 kali

News
Indonesia Walk for Peace 2026: Langkah Sunyi Para Bhikkhu Membawa Pesan Damai untuk Indonesia

Indonesia Walk for Peace 2026 sebagai simbol nyata pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. (Foto: Humas Kanwil Kemenag Jatim/suaraindonesia.co.id)

.

 

SUARAINDONESIA, SIDOARJO —  Perjalanan panjang melelahkan, puluhan bhikkhu berjalan perlahan menyusuri jalan-jalan di Pulau Jawa. Tidak ada iring-iringan mewah atau sorak besar yang mengiringi langkah mereka, Jumat (15/5/2026).

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jawa Timur, Syaikhul Hadi, menyebut Indonesia Walk for Peace sebagai simbol nyata pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

“Atas nama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, kami mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia Bhikkhu Sangha beserta seluruh pendamping.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian dapat dimulai dari langkah-langkah kecil melalui sikap saling menghormati dan saling mendukung antar sesama,” ujarnya.

Perjalanan Indonesia Walk for Peace 2026 menjadi lebih dari sekadar agenda spiritual menuju Perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur.

Nampak semangat dari para bhikku ditandai melekat hangat jubah sederhana, kaki yang terus melangkah, dan keyakinan bahwa perdamaian dapat tumbuh dari ketulusan hati manusia.

Olehnya, harmonisasi masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman, langkah sunyi para bhikkhu itu menjelma menjadi pesan tentang hubungan manusia  dalam menjaga toleransi, dan persaudaraan antarumat manusia.

Suasana hangat penuh kebersamaan tampak saat rombongan Bhikkhu disambut di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Kamis (14/5).

Sekitar 300 umat Buddha dari Surabaya, Sidoarjo, dan sejumlah daerah lain hadir bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jajaran pejabat Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Hadir pula Pembimbing Masyarakat Buddha, Ketut Panji Budiawan, bersama para kepala bidang Kanwil Kemenag Jatim dan panitia perjalanan damai tersebut.

Syaikhul Hadi melanjutkan setiap perjalanan damai tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis.

“Selamat melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. Semoga langkah panjenengan semua membawa kedamaian dan harmoni bagi sesama,” katanya.

Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh, menjelaskan rombongan tahun ini terdiri dari peserta lintas usia, mulai dari 23 tahun hingga 67 tahun.

Mereka berjalan bersama membawa satu tujuan yang sama: menyebarkan semangat perdamaian.

Perjalanan itu dipimpin langsung oleh Bhante Prakari asal Thailand. Meski bertubuh kecil, keteguhan dan semangat Bhante Prakari disebut menjadi sumber inspirasi bagi para peserta selama perjalanan berlangsung.

Irwan mengatakan jalur timur yang dilalui rombongan menjadi rute terpanjang dengan waktu tempuh mencapai 11 hari melintasi sejumlah kota dan kabupaten.

Para Bhante diketahui tiba di Denpasar pada 7 Mei 2026 dan dijadwalkan tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian Perayaan Waisak Nasional.

Namun, bagi para peserta, perjalanan itu bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir.

Di sepanjang jalan, mereka bertemu warga yang menyapa, memberikan air minum, hingga berdiri di pinggir jalan hanya untuk memberi dukungan.

Menurut Irwan, dukungan tersebut datang dari berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.

“Perayaan Waisak dan perjalanan damai ini bukan milik satu golongan saja, tetapi milik kita semua. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam merawat Indonesia yang damai dan harmonis,” ungkapnya.

Nilai kemanusiaan dalam perjalanan itu juga dirasakan langsung oleh Bhikkhu Beng An asal Malaysia, salah satu dari 57 bhikkhu yang mengikuti Indonesia Walk for Peace 2026.

Ia mengaku terharu melihat sambutan masyarakat Indonesia di sepanjang perjalanan.

“Kami melakukan perjalanan di tengah cuaca panas. Namun ketika melihat umat yang antusias menyambut kami, semangat kami kembali tumbuh seketika,” tuturnya.

Perjalanan panjang itu seolah menjadi cermin tentang bagaimana perdamaian sebenarnya dibangun. Bukan melalui slogan besar, melainkan dari kepedulian sederhana antar sesama manusia.

Di tengah peradaban tantangan global dan  situasi sosial yang kerap dipenuhi perbedaan pandangan dan gesekan identitas, langkah para bhikkhu itu menghadirkan ruang refleksi bahwa Indonesia tetap memiliki harapan untuk menjaga persatuan.

Indonesia Walk for Peace 2026 pada akhirnya bukan hanya perjalanan menuju Borobudur.

Ia menjadi perjalanan batin tentang bagaimana manusia belajar berjalan bersama dalam perbedaan, saling menguatkan dalam keberagaman, dan menjaga kedamaian agar tetap hidup di tengah masyarakat.

 

 

 

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *