October 17, 2026

Harga Semangka Sempat Anjlok, Program MBG Kini Jadi Penyelamat Petani Bondowoso

0



Bahrullah
– 18 May 2026 | 19:05 – Dibaca 0 kali

News
Harga Semangka Sempat Anjlok, Program MBG Kini Jadi Penyelamat Petani Bondowoso

Pedagang dan petani semangka saat menunjukan hasil panennya

BONDOWOSO – Petani semangka dan melon di Bondowoso mulai kembali bernapas lega. Setelah sempat dihantam anjloknya harga buah hingga membuat petani merugi, kini harga perlahan kembali stabil dan memberi harapan baru bagi petani lokal.

Agus Budiyanto, salah satu petani semangka dan melon di Bondowoso, mengaku mengelola lahan seluas satu hektare dengan total biaya tanam mencapai Rp 70 juta.

Dalam satu musim tanam, proses dari penanaman hingga panen membutuhkan waktu sekitar 63 hari.

“Biaya tanam satu hektare sekitar Rp 70 juta, mulai dari bibit, pupuk sampai perawatan,” ujar Agus, Senin (18/05/2026). 

Menurut Agus, tantangan terbesar yang dihadapi petani semangka dan melon adalah serangan penyakit tanaman, terutama daun menguning dan keriting yang kerap menyerang saat musim tertentu.

“Tantangan paling berat biasanya penyakit keriting dan daun menguning. Kalau tidak cepat ditangani bisa memengaruhi hasil panen,” katanya.

Meski begitu, Agus mengaku hasil pertanian semangka dan melon masih cukup menjanjikan dibanding komoditas buah lainnya.

Dari lahan seluas satu hektare, ia bisa menghasilkan sekitar 25 ton buah dalam sekali panen.

“Kalau panennya bagus bisa sampai 25 ton,” ujarnya.

Dengan estimasi harga jual berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram, Agus mengaku mampu memperoleh omzet hingga Rp 100 juta dalam satu kali panen.

“Kalau harga masih Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu petani masih untung. Tapi kalau di bawah Rp 10 ribu sudah berat,” tegasnya.

Agus sendiri mengaku sudah menekuni budidaya semangka dan melon sejak tahun 2010 atau sekitar 16 tahun terakhir. Pengalaman panjang itu membuatnya memahami pola tanam hingga perawatan buah agar menghasilkan kualitas terbaik.

“Saya sudah paham karakter tanam semangka dan melon karena sudah lama bertani buah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, pengepul buah semangka dan melon, Haryanto, mengungkapkan harga semangka sebelumnya sempat jatuh hingga menyentuh Rp 3 ribu sampai Rp 3.500 per kilogram. Kondisi itu membuat banyak petani mengalami kerugian besar.

“Sebelumnya harga semangka jatuh tidak tertolong. Banyak petani rugi,” katanya.

Namun kondisi mulai berubah setelah adanya program MBG yang disebut ikut membantu mendongkrak harga buah lokal di pasaran. Menurutnya, program tersebut memberi dampak positif terhadap serapan hasil pertanian petani.

“Setelah ada program MBG ini harga mulai terdongkrak lagi, terutama untuk petani lokal Bondowoso,” ujarnya.

Haryanto juga mengaku sempat mendengar isu bahwa buah potong tidak diperbolehkan masuk dalam program MBG. Informasi itu sempat membuat harga kembali turun drastis di tingkat petani.

“Karena sempat ada isu buah potong dilarang untuk MBG, harga langsung turun jauh,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, kondisi pasar mulai kembali normal dan harga buah perlahan stabil. Ia berharap pemerintah dan mitra MBG terus memberi perhatian terhadap petani lokal semangka dan melon.

“Sekarang harga mulai normal lagi. Harapannya pemerintah dan mitra MBG terus membantu petani lokal,” ungkapnya.

Dalam satu kali transaksi, Haryanto mengaku volume pembelian bergantung pada luas lahan petani. Untuk lahan satu hektare seperti milik Agus, hasil panen bisa mencapai 25 ton buah.

Tak hanya memasok pasar Bondowoso, buah semangka dan melon dari wilayah tersebut juga dikirim ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Surabaya, Bali, Mataram hingga Jakarta.

“Selain Bondowoso kami juga kirim ke Jogja, Surabaya, Bali, Mataram sampai Jakarta,” jelasnya.

Meski begitu, pasokan untuk kebutuhan MBG saat ini disebut masih kecil, yakni sekitar 15 persen dan belum mencakup seluruh wilayah Bondowoso.

“Supply untuk MBG masih sekitar 15 persen dan belum full satu kabupaten,” pungkasnya.

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Bahrullah
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *