Sekolah Adiwiyata Nasional Keluhkan Keterlambatan Pengangkutan Sampah
Asep Tedi
– 30 July 2026 | 13:07 – Dibaca 5 kali
Kepala SMAN 1 Cililin, Saepul Muhtadin. (Foto: Asep/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, KBB – Penumpukan sampah organik dan anorganik terjadi di Tempat Penampungan Sementara (TPS) SMAN 1 Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Kondisi tersebut diduga dipicu keterlambatan pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat, sehingga sampah menumpuk dan sebagian membusuk.
Kepala SMAN 1 Cililin, Saepul Muhtadin, mengatakan volume sampah di sekolah cukup tinggi karena jumlah peserta didik mencapai sekitar 1.400 siswa. Sampah berasal dari enam kantin sekolah, sisa makanan, sampah plastik, serta sampah dari ruang-ruang kelas.
Menurut Saepul, sekolah telah bekerja sama dengan DLH Kabupaten Bandung Barat untuk pengangkutan sampah. Berdasarkan kesepakatan, pengangkutan seharusnya dilakukan satu kali setiap pekan. Namun, dalam pelaksanaannya pengangkutan kerap terlambat hingga dua sampai tiga pekan.
“Seharusnya pengangkutan dilakukan setiap satu minggu sekali. Namun kenyataannya sering terlambat hingga dua sampai tiga minggu baru diangkut,” ujar Saepul, Kamis (30/7/2026).
“Selain itu, kendaraan yang digunakan berukuran kecil sehingga tidak mampu mengangkut seluruh sampah dalam satu kali pengangkutan,” lanjutnya.
Akibat keterlambatan tersebut, sampah terus menumpuk di TPS sekolah. Sebagian sampah yang berada di bagian bawah tidak ikut terangkut karena kapasitas kendaraan terbatas, sehingga membusuk dan berpotensi menimbulkan gangguan kebersihan lingkungan.
“Selama ini yang terangkut hanya sampah di bagian atas, sedangkan sampah di bagian bawah tertinggal hingga akhirnya membusuk. Kami berharap DLH menggunakan kendaraan yang lebih besar,” katanya.
Saepul menambahkan, pihak sekolah rutin membayar retribusi pengangkutan sampah setiap bulan kepada DLH Kabupaten Bandung Barat.
Karena itu, sekolah berharap pelayanan pengangkutan dapat ditingkatkan, baik melalui ketepatan jadwal maupun penyediaan armada berkapasitas lebih besar agar seluruh sampah dapat terangkut dalam satu kali pengangkutan.
Selain itu, sekolah juga mengusulkan adanya fasilitas pengelolaan atau penampungan sampah yang lebih memadai guna mendukung penanganan sampah secara efektif.
Sebagai sekolah yang telah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional, SMAN 1 Cililin tidak diperbolehkan membakar sampah di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut membuat sekolah sepenuhnya bergantung pada layanan pengangkutan sampah dari DLH Kabupaten Bandung Barat.
Saepul menjelaskan, penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional diterima SMAN 1 Cililin dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Desember 2025 di Jakarta.
Untuk mempertahankan predikat tersebut, sekolah terus membiasakan peserta didik menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan ruang kelas, serta menanam dan merawat tanaman di area sekolah.
“Pihak sekolah berharap pengangkutan sampah dapat dilakukan tepat waktu dengan armada yang memadai sehingga kebersihan lingkungan sekolah tetap terjaga dan predikat Sekolah Adiwiyata Nasional dapat dipertahankan,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Asep Tedi |
| Editor | : Alfiana Putri |
