October 17, 2026

Muhammad Romli: Lima Tahun ke Depan Pramuka Tak Bakal Dilirik Generasi Muda

0


Pendidikan
Muhammad Romli: Lima Tahun ke Depan Pramuka Tak Bakal Dilirik Generasi Muda

Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sumenep, Muhammad Romli. (Foto: Istimewa)

BERITA PLUS, SUMENEP – Gerakan Pramuka dituntut tidak berhenti pada rutinitas jika ingin tetap menjadi ruang yang menarik bagi generasi muda.

Perubahan zaman, perkembangan teknologi, hingga pola belajar anak muda membuat organisasi kepanduan itu perlu berani menghadirkan kegiatan yang lebih kreatif dan relevan.

Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sumenep, Muhammad Romli mengingatkan, bahwa pramuka berpotensi ditinggalkan generasi muda apabila tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.

Kekhawatiran itu bukan karena nilai-nilai kepramukaan kehilangan makna, melainkan karena cara menyampaikannya bisa semakin jauh dari kehidupan anak muda.

“Jika Pramuka tidak ikut berubah, maka yang ditinggalkan bukan karena nilai-nilai kepramukaan sudah tidak dibutuhkan, tetapi karena cara Pramuka menyampaikan nilai-nilai tersebut tidak lagi menarik dan relevan bagi generasi muda,” kata Romli, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan diri. Mereka bisa belajar teknologi, coding, desain, kewirausahaan, fotografi, olahraga, membuat konten hingga bergabung dengan berbagai komunitas. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Pramuka untuk menghadirkan pengalaman yang tidak kalah menarik.

Kegiatan yang terus berulang dengan pola yang sama dinilai berisiko membuat Pramuka kehilangan daya tarik. Upacara, baris-berbaris, tali-temali maupun perkemahan tetap memiliki nilai pendidikan, tetapi perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih kreatif agar tidak sekadar menjadi rutinitas.

Pertanyaan yang kemudian perlu dijawab adalah mengapa anak muda harus memilih Pramuka di tengah begitu banyak pilihan aktivitas. Bagi Romli, jawaban tersebut harus muncul dari kemampuan Pramuka memberikan ruang belajar yang nyata, menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi masa depan anggotanya.

Tak kalah penting, generasi muda juga perlu diberi kepercayaan lebih besar dalam menjalankan organisasi. Mereka tidak cukup hanya menjadi peserta yang menerima program dari orang dewasa, tetapi perlu dilibatkan dalam menyusun gagasan, mengambil keputusan, memimpin kegiatan hingga mengevaluasi hasilnya.

“Jangan sampai kita mengatakan Pramuka mengajarkan kepemimpinan, tetapi dalam praktiknya anak muda tidak diberi ruang untuk memimpin,” tegasnya.

Romli menilai usia Penegak dan Pandega, yakni 16 hingga 25 tahun, merupakan fase penting untuk belajar menjadi pemimpin. Karena itu, kesempatan mengambil keputusan dan mengelola kegiatan secara mandiri perlu diperluas.

Kesalahan yang muncul dalam proses tersebut justru dapat menjadi pengalaman berharga selama tetap berada dalam pendampingan yang tepat.

Pembina, kata dia, tetap memiliki peran penting. Namun, posisi pembina tidak selalu harus berada di depan sebagai pengendali. Dalam situasi tertentu, pembina justru perlu menjadi mentor dan fasilitator yang memberikan arahan sekaligus kepercayaan kepada anak muda untuk mencoba.

Pramuka juga dinilai perlu keluar dari kebiasaan terlalu menonjolkan seremonial. Seragam, upacara, pelantikan, atribut dan berbagai kegiatan formal memang menjadi bagian dari identitas organisasi. Namun, keberhasilan Pramuka seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar.

“Banyak kegiatan bukan berarti banyak pembelajaran. Banyak acara bukan berarti banyak perubahan. Banyak peserta bukan berarti semuanya merasa memiliki,” ujarnya.

Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai dasar Pramuka sebenarnya tetap relevan. Kemandirian dapat diterapkan dalam menghadapi dunia kerja dan kehidupan yang penuh ketidakpastian. Gotong royong bisa berkembang menjadi kolaborasi lintas komunitas, sementara cinta alam dapat diwujudkan melalui aksi nyata menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Begitu pula dengan kepemimpinan. Pramuka memiliki peluang besar menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar mengelola proyek, membangun organisasi, menyelesaikan persoalan dan mengambil keputusan. Ruang tersebut akan semakin penting ketika generasi muda menghadapi dunia yang semakin kompleks.

“Bagaimana Pramuka bisa menjadi pemimpin masa depan kalau hanya diajari memimpin regu?,” kata Romli.

Karena itu, Pramuka didorong menjadi ruang eksperimen bagi generasi muda. Mereka bisa diberi kesempatan membuat proyek lingkungan, mengembangkan media digital, membangun usaha, berkolaborasi dengan komunitas lain hingga mencari solusi atas persoalan di lingkungan sekitar. 

“Biarkan mereka mencoba. Jika gagal, evaluasi. Jika berhasil, kembangkan,” tuturnya.

Lima tahun ke depan, menurutnya menjadi periode penting bagi Pramuka untuk menentukan arah. Generasi yang saat ini berada di bangku sekolah akan segera memasuki dunia kampus, pekerjaan, komunitas dan berbagai ruang kepemimpinan. Jika Pramuka mampu memberikan pengalaman yang bermakna, ruang kreativitas dan kepercayaan, organisasi tersebut tetap berpeluang menjadi pilihan generasi muda.

Sebaliknya, jika inovasi terus dibatasi, kegiatan berjalan monoton dan anak muda tidak mendapatkan ruang untuk menentukan arah kegiatannya sendiri, Pramuka berisiko semakin ditinggalkan. 

“Bukan generasi muda yang harus dipaksa mencintai Pramuka. Pramukalah yang harus terus berusaha menjadi sesuatu yang layak dicintai dan dibutuhkan oleh generasi muda,” pungkas Romli. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Wildan Mukhlishah Sy
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *