Poliwangi Bantu Peternak di Songgon Dongkrak Harga Jual Pupuk Limbah Domba Naik 200 Persen
Tim Poliwangi mendampingi peternak mengolah limbah domba menjadi pupuk organik premium. (Foto: Istimewa).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Limbah kotoran domba di Dusun Sumberarum, Desa/Kecamatan Songgon, Banyuwangi, kini memiliki nilai ekonomi lebih tinggi setelah mendapat pendampingan dari Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).
Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun kedua, tim pengabdian Jurusan Pertanian Poliwangi mendampingi Kelompok Ternak Mahkota Jaya Raung Farm mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik bernilai jual.
Pendampingan tersebut dilakukan pada Jumat (14/8/2026), untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperluas pasar pupuk organik yang sebelumnya dijual secara sederhana dengan harga relatif rendah.
Ketua Tim Pengabdian Poliwangi, Dwi Ahmad Priyadi, mengatakan program tahun kedua merupakan kelanjutan dari pendampingan sebelumnya yang telah memperkenalkan teknologi pengolahan limbah ternak.
“Pada tahun pertama kami mengenalkan alat pencacah dan penggiling multifungsi. Di tahun kedua ini, kami tingkatkan teknologinya,” kata Dwi, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, pupuk berbahan kotoran domba yang dihasilkan peternak sebenarnya telah memiliki pasar. Namun, kualitas tekstur dan proses pengolahannya membuat harga jual masih terbatas.
“Pupuk kotoran domba olahan peternak sebenarnya sudah diterima pasar, namun harganya masih rendah hanya sekitar Rp 1.000 per kilogram karena tekstur dan kualitasnya masih seadanya,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kualitas produk, Poliwangi memfasilitasi pembangunan Rumah Kompos dengan kapasitas produksi hingga enam ton per bulan di sekitar kandang ternak.
Fasilitas tersebut dilengkapi mesin pengayak pupuk sehingga peternak tidak lagi sepenuhnya mengandalkan tenaga manual dalam menghasilkan pupuk dengan tekstur lebih halus.
Selain fasilitas produksi, anggota kelompok juga mendapat pendampingan mengenai formula pengolahan pupuk organik dan strategi pemasaran untuk menjangkau konsumen baru.
Produk yang sebelumnya menyasar pasar umum kemudian diarahkan ke segmen penghobi tanaman hias dan tanaman rumahan melalui kemasan praktis berukuran tiga kilogram.
Strategi tersebut turut diikuti peningkatan kebersihan, kehalusan, serta tampilan kemasan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen rumah tangga.
Hasilnya, harga jual pupuk organik kotoran domba mengalami peningkatan dari sekitar Rp 1.000 menjadi Rp 3.000 per kilogram atau naik hingga 200 persen.
Ketua Kelompok Ternak Mahkota Jaya Raung Farm, Syaiful, mengapresiasi pendampingan Poliwangi yang dinilai membantu kelompok meningkatkan efisiensi pengolahan limbah peternakan.
Menurut Syaiful, keberadaan Rumah Kompos dan mesin pengayak membuat proses produksi pupuk menjadi lebih cepat sekaligus mengurangi beban fisik peternak.
“Dengan adanya rumah kompos dan mesin pengayak, proses produksi pupuk menjadi lebih mudah dan cepat. Kami sangat terbantu dengan pendampingan dari Poliwangi,” ujar dia.
Program tersebut melibatkan sejumlah dosen. Selain Dwi Ahmad Priyadi, juga ada M. Ilham Hilal, dan Dr. Mustofa Hilmi bersama sejumlah mahasiswa Poliwangi.
Pendampingan berkelanjutan itu diharapkan mampu mendorong kelompok ternak mengembangkan usaha berbasis pengelolaan limbah sekaligus menciptakan produk pupuk organik yang memiliki daya saing.
Pengolahan limbah ternak secara terpadu juga menjadi langkah menuju konsep usaha peternakan tanpa limbah atau zero-waste, dengan kotoran domba tidak lagi sekadar menjadi buangan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Alfiana Putri |
