32 Tim Ramaikan Turnamen Orado Banyuwangi, Cabor Baru yang Makin Diminati
Peserta mengikuti turnamen orado Banyuwangi dengan penuh semangat dan strategi. (Foto: Istimewa).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Olahraga domino atau Orado mulai mendapat tempat di kalangan pencinta olahraga Banyuwangi. Sebanyak 32 tim ambil bagian dalam turnamen yang digelar di Hotel Aston, Sabtu (29/8/2026).
Kompetisi tersebut menjadi ajang untuk mengenalkan orado sebagai cabang olahraga baru yang mulai berkembang di Banyuwangi.
Berbeda dari permainan domino yang selama ini dikenal masyarakat sebagai gaple, orado dikembangkan menjadi olahraga prestasi dengan sistem pertandingan yang lebih terstruktur.
Secara nasional, Pengurus Besar (PB) Orado dideklarasikan pada Januari 2026. Organisasi tersebut kemudian mendapat pengesahan sebagai bagian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat pada Mei 2026.
Sementara itu, orado mulai masuk sebagai cabang olahraga di bawah KONI tingkat provinsi dan kabupaten pada awal Agustus 2026.
Ketua Pengcab ORADO Banyuwangi Dede Abdul Ghany mengatakan turnamen kali ini merupakan penyelenggaraan kedua yang digelar pihaknya.
“Hari ini kami menyelenggarakan kegiatan turnamen orado yang kita sudah selenggarakan untuk kedua kalinya. Namun hari ini berbeda, nuansa HUT Kemerdekaan RI yang ke-81 hari ini menjadi penyemangat kita semua bahwasanya bidang olahraga ini bisa membangkitkan serta menggerakkan ekonomi di daerah,” kata Dede.
Minat masyarakat terhadap olahraga tersebut disebut cukup tinggi. Panitia bahkan harus membatasi jumlah peserta agar kompetisi dapat berlangsung sesuai format pertandingan.
Dari sekitar 42 tim yang mendaftar, hanya 32 tim yang akhirnya mengikuti turnamen. Mereka berasal dari hampir 12 klub yang ada di Banyuwangi.
“Turnamen ini kami batasi hanya 32 tim dari hampir 12 klub. Karena memang regulasi kita, walaupun pendaftar atau peminatnya banyak, hampir 42 tim yang mendaftar, tapi kita memang ada aturan bagan yang harus kita akomodir supaya terjadi pertandingan yang baik,” ujar dia.
Pertandingan menggunakan sistem gugur sehingga seluruh rangkaian kompetisi dapat diselesaikan dalam satu hari.
Dede berharap perkembangan orado tidak hanya berhenti pada turnamen di tingkat kabupaten. Menurutnya, olahraga tersebut dapat menjadi ruang bagi pemain dari berbagai desa untuk mengembangkan kemampuan secara lebih terarah.
Ia juga ingin permainan domino yang selama ini tumbuh sebagai bagian dari aktivitas masyarakat dapat berkembang menjadi kompetisi olahraga dengan aturan dan standar pertandingan yang lebih baik.
Salah seorang peserta, Hujaini, merasakan perbedaan atmosfer ketika memainkan orado dalam format pertandingan resmi dibandingkan permainan yang biasa dilakukan di lingkungan desa.
Menurutnya, format kompetisi membuat pemain harus lebih fokus dan mampu mengendalikan tekanan selama pertandingan berlangsung.
“Suasana berkompetisi jadi terasa. Yang paling utama dipersiapkan itu mental,” kata dia. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Alfiana Putri |
