Aksi Jalan Miring Mat Tohek di Semarang: Save Ungaran, Save Lawu!
Team Work
– 02 September 2026 | 15:09 – Dibaca 0 kali
Aktivis lingkungan asal Blora, Mat Tohek, melakukan aksi berjalan miring sambil membawa bendera Merah Putih di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Rabu (2/9/2026). (Foto: Lilik Yuliantoro untuk Suara Indonesia)
BERITA PLUS, SEMARANG – Kritik terhadap kebijakan pembangunan dan pengelolaan lingkungan disampaikan dengan cara tidak biasa oleh aktivis lingkungan asal Blora, Mat Tohek.
Ia berjalan miring dari kawasan Simpang Lima menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (2/9/2026), sebagai bagian dari aksi Jateng Guyub.
Mengenakan karung goni, caping bambu, serta membawa kain hitam sepanjang lima meter dan kain putih sepanjang 10 meter, Mat Tohek juga mengibarkan Merah Putih.
Pesan yang dibawanya tegas: “Save Ungaran, Save Lawu!”
Langkah miring tersebut menjadi simbol kritik terhadap arah pembangunan yang dinilai terlalu menekankan investasi dan energi, tetapi berpotensi mengabaikan keselamatan lingkungan serta ruang hidup masyarakat.
Setibanya di Kantor Gubernur Jawa Tengah, kain hitam dan putih diserahkan kepada perwakilan Jateng Guyub untuk dibawa dalam agenda audiensi.
Koordinator Umum Jateng Guyub, Joko Priyanto, mengatakan audiensi tersebut merupakan tindak lanjut aksi sebelumnya.
Sebulan lalu, massa melakukan aksi selama tiga hari dan memberikan waktu kepada Gubernur Jawa Tengah untuk merespons berbagai tuntutan.
Jateng Guyub, yang disebut mewadahi masyarakat dari 28 kabupaten/kota, membawa sejumlah persoalan, antara lain lingkungan, agraria, dugaan kriminalisasi masyarakat, pendidikan, dan infrastruktur.
Dalam aksi itu, Mat Tohek juga menyeret banner berlogo Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di atas aspal.
Aksi tersebut menjadi sindiran terhadap kebijakan energi yang menurutnya tidak boleh hanya menghitung investasi dan kapasitas listrik, tetapi juga dampaknya terhadap air, tanah, keselamatan warga, dan lingkungan.
Salah satu isu yang disorot adalah rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran.
Mat Tohek mengaitkannya dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026 yang disebut mencakup wilayah kerja sekitar 29.800 hektare, potensi 55 megawatt, investasi sekitar 300 juta dolar AS, serta pengeboran hingga kedalaman 1.900–2.200 meter.
Ia menegaskan tidak menolak panas bumi, tetapi meminta seluruh risiko dikaji secara transparan dan independen, terutama terkait sesar dan kegempaan, sumber air, hidrogeologi, permukiman, hingga kawasan bersejarah seperti Candi Gedong Songo.
Mat Tohek juga mempertanyakan urgensi penambahan pembangkit jika pasokan listrik Jawa Tengah dan DIY masih memiliki cadangan. Ia menyebut data PLN UID Jateng-DIY 2025 menunjukkan kapasitas terpasang sekitar 6.400 megawatt, sedangkan beban puncak sekitar 4.200 megawatt.
“Keselamatan masyarakat dan lingkungan harus menjadi dasar. Semua risiko harus dibuktikan melalui kajian ilmiah dan data yang transparan,” ujarnya.
Kekhawatiran lain menyangkut sumber air di kawasan Bandungan dan Gedong Songo yang menopang pertanian serta kehidupan masyarakat.
Risiko paparan hidrogen sulfida (H₂S), perubahan tata air, kondisi tanah, hingga dampak terhadap bangunan bersejarah juga diminta menjadi bagian dari kajian.
Bagi Mat Tohek, seluruh atribut yang dikenakannya memiliki makna. Karung goni menggambarkan rakyat kecil, caping melambangkan petani, kain hitam-putih menjadi simbol peringatan dan keseimbangan, sedangkan Merah Putih menegaskan bahwa kritik tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Kini, Mat Tohek dan Jateng Guyub menunggu tindak lanjut pemerintah, bukan sekadar audiensi.
“Pembangunan memang diperlukan. Energi dan investasi juga penting. Tetapi jangan sampai sumber air, ruang hidup, keselamatan warga, dan warisan budaya menjadi taruhannya,” kata Mat Tohek.
Ia menutup aksinya dengan pesan: “Sempurnakan hidup dengan tiga hubungan: taat kepada Allah (Hablum Minallah), santun kepada sesama (Hablum Minannas), dan peduli pada semesta (Hablum Minal ‘Alam).” (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Team Work |
| Editor | : Alfiana Putri |
