September 18, 2026

Kisah 23 Tahun Guru Honorer Romawati Terungkap Setelah Viral Sekolah Rusak di Kampar Riau

0


Features
Kisah 23 Tahun Guru Honorer Romawati Terungkap Setelah Viral Sekolah Rusak di Kampar Riau

Romawati, guru kelas jarak jauh SDN 007 Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kampar (Foto: Istimewa)

BERITA PLUS, KAMPAR – Di tengah viralnya kabar tentang kondisi sekolah rusak di Kabupaten Kampar Riau, turut membuka kisah panjang pengabdian para guru yang selama bertahun-tahun tetap bertahan mendidik anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas.

Salah satunya adalah Romawati, guru kelas jarak jauh SDN 007 Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Ia mengaku telah mengabdikan diri sebagai guru honorer selama kurang lebih 23 tahun.

Romawati mengatakan, SDN 007 Sungai Agung berdiri sejak 19 Juli 2004. Ia merupakan salah satu guru pertama yang ikut membuka dan membangun sekolah tersebut sejak awal berdiri.

“Perkenalkan, nama saya Ibu Romawati. Saya adalah guru di kelas jarak jauh SDN 007 Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar,” kata Romawati dalam rekaman suara yang dikirimkan kepada pewarta, Rabu (16/9/2026).

Selama mengabdi, status Romawati hingga kini masih sebagai guru honorer. Salah satu alasannya karena ia hanya memiliki ijazah SMA sederajat.

Ia berharap pemerintah, baik pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, memberikan perhatian kepada guru honorer yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun.

“Saya sudah mengabdi kurang lebih 23 tahun,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Sebelum mengajar di SDN 007 Sungai Agung, Romawati pernah menjadi guru di Aceh, tepatnya di SD Melidi. Ia menyebut desa tempatnya mengajar ketika itu juga merupakan daerah tertinggal.

Setelah itu, ia melanjutkan pengabdiannya di Kampar. Ia ikut membuka sekolah tersebut sejak pertama kali berdiri dan menjadi salah satu guru pertama yang mengajar di sana.

Romawati mengingat masa-masa awal sekolah berdiri. Ketika itu, ia menerima gaji dari BP3 sebesar Rp20 ribu per siswa setiap bulan.

Dengan jumlah siswa sekitar 20 orang, penghasilan yang diterimanya saat itu hanya sekitar Rp400 ribu per bulan.
Penghasilan tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan hidup.

Dalam menjalankan tugasnya, Romawati juga harus memenuhi berbagai kebutuhan sekolah. Mulai dari membeli alat tulis kantor (ATK), kapur, membuat laporan bulanan, hingga melaporkan kegiatan sekolah ke dinas.

Pada awal berdiri, keterbatasan tenaga pengajar juga membuat Romawati harus mengajar seorang diri.

“Saat itu saya mengajar lima kelas seorang diri, dari kelas 1 sampai kelas 5,” katanya.

Selama kurang lebih enam bulan, ia mengajar berbagai mata pelajaran dengan keterbatasan buku dan fasilitas. Bahkan, buku pelajaran dari pemerintah ketika itu belum tersedia.

Bantuan kemudian datang dari kepala dusun berupa buku paket untuk kelas 1 hingga kelas 5. Namun, buku tersebut hanya menjadi pegangan guru.

Seiring berjalannya waktu, jumlah murid semakin bertambah. Tenaga pengajar kemudian ditambah menjadi dua orang dan sekolah terus berkembang hingga memiliki kelas 6.

Meski sekolah berada di daerah yang masih tertinggal dan menghadapi berbagai keterbatasan, Romawati mengaku bersyukur melihat perkembangan anak-anak didiknya.

Ia mengungkapkan banyak siswa yang telah menamatkan pendidikan dari sekolah tersebut kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan hingga perguruan tinggi.

Menurut Romawati, ada alumni yang kemudian menjadi sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana komputer, bidan dan berbagai profesi lainnya.

“Itulah yang membuat saya bangga. Walaupun kami mengajar dalam keterbatasan, anak-anak kami tetap memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita,” ujarnya.

Romawati juga menyadari bahwa salah satu alasan dirinya masih berstatus guru honorer berkaitan dengan pendidikan yang dimilikinya.

Ia mengatakan bukan tidak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat keinginan tersebut belum dapat diwujudkan.

“Saya bukan tidak mau melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat saya belum mampu melanjutkan pendidikan,” bebernya.

Kondisi keluarga juga menjadi salah satu kendala. Suaminya disebut mengalami sakit lambung akut yang telah diderita selama kurang lebih lima tahun. Hingga kini, suaminya masih menjalani pengobatan dan belum dinyatakan sembuh.

Disisi lain, Romawati juga manaruh harapan besar kepada pemerintah. Ia berharap pemerintah dapat melihat perjuangan guru honorer dari sisi pengabdian yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Harapan itu yakni pengangkatan sebagai PPPK maupun PNS, tentunya sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

“Saya hanya berharap pemerintah dapat melihat dan mempertimbangkan pengabdian kami,” ungkapnya.

Selama kurang lebih 23 tahun, Romawati mengaku tetap bertahan mengajar sejak sekolah mulai dibuka hingga sekarang.
Ia ikut membangun sekolah dari awal, mengajar dengan segala keterbatasan, hingga menyaksikan anak-anak didiknya tumbuh dan banyak yang berhasil melanjutkan pendidikan.

Romawati mengatakan kisah tersebut merupakan bagian dari perjalanan pengabdiannya dalam membangun dan mendampingi sekolah sejak awal hingga sekarang.

Ia berharap pemerintah dapat mendengar dan memperhatikan perjuangan para guru honorer yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri untuk pendidikan di daerah.

“Itu saja kisah saya sedikit mengenai membangun sekolah dari awal sampai sekarang, ya mudah-mudahan saya sangat berharap ke depannya saya dapat bantuan dari pemerintah baik pengangkatan P3K ataupun PNS, itu harapan saya kepada pemerintah,” ungkapnya.(*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Yudha Pratama
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *