Halalbihalal Peradi Surabaya: Pengurus Tegaskan Bantuan Hukum Gratis dan Pentingnya Rekonsiliasi Internal
Jefri Hadi
– 09 April 2026 | 22:04 – Dibaca 0 kali
Suasana jabat tangan sillaturahmi antar anggota dan pengurus serta masyarakat dalam kegjatan halalbihalal DPC Peradi Surabaya. (Foto: Yulian/Suaraindonesia.co.id)
BERITA PLUS, SURABAYA – Ketua DPC Peradi Kota Surabaya, Hariyanto, menegaskan komitmen organisasinya memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi masyarakat tidak mampu dalam momentum halalbihalal yang digelar sederhana dan mandiri, Kamis (9/4/2026).
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang rekonsiliasi antaranggota advokat yang selama ini kerap berbeda pandangan.
Dalam sambutannya, Hariyanto menekankan bahwa advokat tidak hanya bekerja untuk klien berbayar, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral membela masyarakat miskin yang membutuhkan keadilan.
“Kami tidak hanya mengawal keadilan bagi mereka yang mampu membayar mahal, tetapi juga memberikan bantuan hukum pendampingan sampai pengadilan secara cuma-cuma, gratis melalui PBH (pusat bantuan hukum) Peradi,” kata Hariyanto.
Ia memastikan masyarakat tidak perlu ragu meminta bantuan hukum melalui RT atau RW setempat. Peradi Surabaya, kata dia, siap hadir bagi warga yang benar-benar membutuhkan pendampingan hukum.
“Jangan segan-segan minta bantuan. Tidak usah khawatir soal biaya, selama memang masyarakat kurang mampu dan ada ketidakadilan, kami siap mendampingi,” ujarnya.
Menurut Hariyanto, profesi advokat tidak diukur dari menang atau kalah di pengadilan, melainkan dari kesungguhan dalam membela kebenaran.
“Menang atau kalah bukan urusan advokat. Yang terpenting adalah bersungguh-sungguh membela kebenaran dan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika profesi di tengah perbedaan pandangan antaradvokat agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
“Perbedaan itu wajar. Tapi jangan sampai berlarut-larut dan merusak marwah profesi. Kita harus tetap berpegang pada kode etik,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Agama DPC Peradi Surabaya, H. Mochammad Sueb, menekankan bahwa halalbihalal bukan sekadar tradisi, melainkan momentum spiritual untuk membersihkan hati dari rasa dengki dan permusuhan.
“Halalbihalal adalah momen untuk saling bertemu, membuka hati, dan menghapus kesalahan. Bukan sekadar formalitas, tetapi upaya menyucikan hubungan antar sesama,” ujar Sueb.
Ia mengutip nilai-nilai dalam ajaran Islam, termasuk pesan moral dari Surah An-Nahl ayat 90, yang menekankan keadilan, kebaikan, dan larangan terhadap permusuhan.
Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki banyak amal, tetapi tetap merugi jika masih menyimpan iri hati dan kebencian terhadap sesama.
“Orang bisa banyak amal, tetapi tetap merugi jika masih memiliki rasa dengki. Karena itu, perbedaan pendapat di antara advokat harus disikapi dengan lapang dada,” katanya.
Sueb menilai perbedaan pandangan dalam profesi advokat adalah hal yang wajar, namun tidak boleh berujung pada konflik berkepanjangan. Momentum halalbihalal, kata dia, harus dimanfaatkan untuk mengakhiri gesekan yang terjadi.
“Perbedaan itu biasa, tapi jangan sampai menjadi permusuhan. Hari ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya dan saling memaafkan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh anggota untuk memanfaatkan prosesi saling bersalaman sebagai simbol penghapusan dosa dan kesalahan antarindividu.
“Cukup saling berjabat tangan dengan tulus, insyaallah menjadi jalan untuk menghapus kesalahan. Mari kita buka hati dan saling memaafkan,” ucapnya.
Kegiatan halalbihalal tersebut digelar dengan melibatkan warga sekitar, termasuk pengurus RT dan RW, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan sosial antara advokat dan masyarakat.
Hariyanto menambahkan, Peradi Surabaya tengah memperkuat kemandirian organisasi, termasuk rencana memiliki gedung permanen dalam waktu dekat.
“Insyaallah kami akan memiliki gedung permanen. Ini bagian dari kemandirian kami, dan kami ingin menjadi contoh bagi DPC lain di Jawa Timur,” tuturnya.
Ia menutup dengan ajakan kepada seluruh anggota untuk terus menjaga integritas dan terbuka terhadap kritik demi kemajuan organisasi.
“Jangan berhenti memberi kritik dan saran. Bisa jadi kita berbeda pendapat, tapi hati saya tetap untuk teman-teman semua,” ucapnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
