October 16, 2026

Diskusi May Day, Mahasiswa dan Buruh Miliki Peran Strategis Dalam Pembangunan Bangsa

0


News
Diskusi May Day, Mahasiswa dan Buruh Miliki Peran Strategis Dalam Pembangunan Bangsa

Para narasumber dari berbagi latar belakang mengisi diskusi May Day yang digelar Aliansi BEM Surabaya. (Foto: Lukman/Suara Indonesia)

BERITA PLUS, SURABAYA – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) meyambut momentum Hari Buruh Internasional dengan menggelar forum bertajuk “Cangkru’an dan Diskusi May Day” di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya, Selasa 28 April 2026.

Dalam diskusi ini, Aliansi BEM Surabaya menghadirkan narasumber seperti, akademisi sekaligus dosen hukum Dr. Jamil, S.H., M.H, Dewan Buruh Nasional Konfederasi KASBI, Syahril Romadhon, serta anggota DPRD Kota Surabaya, Muhammad Saifuddin. Adapun pemantik diskusi yakni Devano Faradiska Eka Candra selaku Presiden Mahasiswa BEM Ubhara.

Dalam pengantar diskusi, Devano Faradiska Eka Candra menegaskan bahwa momentum May Day bukan hanya menjadi peringatan seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi bersama untuk melihat berbagai persoalan ketimpangan sosial dan ketenagakerjaan yang masih dirasakan masyarakat.

“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir bersama rakyat dan tidak bersikap apatis terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekitarnya,” kata Devano.

Sementara itu, Nasrawi Ibnu Dahlan selaku Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya menekankan pentingnya persatuan gerakan mahasiswa di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.

Ia menilai bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengamat, tetapi harus mampu menjadi penggerak perubahan sosial yang nyata.

Dalam pemaparannya, dosen hukum Jamil menjelaskan mengenai sejarah revolusi industri dan kaitannya dengan kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Ia menilai bahwa Indonesia tidak pernah mengalami revolusi industri sebagaimana yang terjadi di Inggris dan negara-negara Eropa.

Menurutnya, revolusi industri di Inggris terjadi karena adanya perkembangan besar dalam sektor produksi dan industri yang kemudian diperluas ke berbagai negara jajahan untuk kepentingan pasar.

Sementara itu, Indonesia yang dijajah Belanda justru dijadikan sebagai wilayah eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya pembangunan industri yang kuat bagi rakyat pribumi.

“Belanda datang ke Indonesia bukan untuk membangun industri rakyat, tetapi untuk mengambil sumber daya yang kita miliki,” jelas Jamil.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia pada dasarnya merupakan negara welfare state atau negara kesejahteraan yang memiliki cita-cita besar untuk mensejahterakan rakyatnya. Karena itu, lanjut Jamil, negara tidak boleh hanya menjadi “penjaga malam”, tetapi harus hadir secara nyata dalam menjamin kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan terhadap hak-hak pekerja.

Sementara itu, anggota DPRD Surabaya, Muhammad Saifuddin menyoroti pentingnya peran mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya berpikir untuk mencari pekerjaan setelah lulus, melainkan harus mulai membangun pola pikir kreatif dan inovatif agar mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar, membaca, dan mencari pengetahuan sebanyak mungkin selama berada di dunia kampus. Kesempatan yang dimiliki mahasiswa saat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal untuk menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di masa depan.

“Mahasiswa harus mampu memanfaatkan kesempatan belajar dengan baik. Cari tahu apa yang belum diketahui dan terus tingkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Dari pihak buruh, Syahril Romadhon menyampaikan harapannya agar gerakan mahasiswa dapat terus menjalin kolaborasi dengan gerakan buruh dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

“Mahasiswa dan buruh memiliki posisi yang strategis dalam mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak kepada rakyat kecil,” pungkasnya.

Diskusi ini menjadi salah satu bentuk konsolidasi gerakan mahasiswa dan buruh di Surabaya dalam menyambut May Day 2026 sekaligus memperkuat semangat kolektif untuk mengawal keadilan sosial di tengah berbagai ketimpangan yang masih terjadi di masyarakat. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Lukman Hadi
Editor : Imam Hairon





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *