October 16, 2026

Meimura Angkat Isu Sensitif: Penambangan vs Pelestarian Situs Lewat Ludruk

0


News
Meimura Angkat Isu Sensitif: Penambangan vs Pelestarian Situs Lewat Ludruk

Memimura saat memerankan Besut (Istimewa)

BERITA PLUS, SURABAYA – Kampus tak lagi sekadar ruang akademik. Di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, panggung ludruk justru menjadi medium kritik keras atas tarik-menarik kepentingan ekonomi dan pelestarian situs sejarah.

Pementasan Ludruk Garingan bertajuk “Batu Batu Bersuara” yang dibawakan Meimura, Kamis (7/5/2026), mengangkat realitas lokal yang selama ini nyaris luput dari perdebatan terbuka: eksploitasi batu dan situs di Mojokerto.

Lewat format Besutan gaya ludruk minimalis tanpa gamelan dan panggung besar Meimura menabrak pakem pertunjukan konvensional. Ia tampil lincah, mengandalkan improvisasi, humor, dan kritik sosial yang langsung menyentuh audiens kampus.

Isu yang diangkat bukan sekadar simbolik. Batu, dalam pertunjukan ini, menjelma menjadi representasi konflik nyata: antara kebutuhan ekonomi warga penambang dengan ancaman hilangnya situs bersejarah.

Tokoh Sumo Gambar dan Man Jamino yang diperankan Kukun Triyoga dan Taufik digambarkan sebagai penambang pasir, sirtu, hingga batu andesit. Mereka hidup dari sumber daya yang sama, namun dihadapkan pada kesadaran baru: aktivitas mereka berpotensi merusak lingkungan sekaligus mengancam jejak sejarah.

“Dulu batu hanya dianggap bahan bangunan. Sekarang mulai dipertanyakan ini situs atau sekadar benda?” menjadi benang merah konflik yang disajikan di atas panggung.

Pertengkaran keduanya merepresentasikan kegamangan masyarakat. Di satu sisi, batu menjadi sumber penghidupan. Di sisi lain, batu yang sama bisa jadi bagian dari warisan budaya yang tak tergantikan.

Meimura tidak menawarkan jawaban. Justru ia membiarkan konflik itu menggantung—menggambarkan realitas bahwa persoalan ini belum menemukan titik temu.

“Saya ingin anak muda tidak hanya menikmati, tapi ikut memikirkan masa depan ludruk dan juga realitas di sekitarnya,” ujarnya, Surabaya, Minggu (3/5/2026).

Pilihan tampil di kampus bukan tanpa alasan. Generasi muda dinilai menjadi kunci dalam menentukan arah: apakah akan melanjutkan eksploitasi, atau mulai merawat nilai sejarah.

Pementasan ini sekaligus menegaskan bahwa ludruk tidak harus bergantung pada fasilitas besar. Tanpa panggung megah, tanpa iringan gamelan, bahkan tanpa kelompok permanen, pertunjukan tetap bisa hidup dan relevan.

Usai pentas, diskusi digelar menghadirkan Ketua FPK Jatim Ki Bagong Sinukarto dan akademisi UNIM Achmad Fatony. Forum ini memperpanjang “suara batu” dari panggung ke ruang dialektika.

Di tengah derasnya pembangunan, pertanyaan yang diajukan sederhana namun tajam: ketika batu bicara, siapa yang mau mendengar dan siapa yang memilih diam?
 

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Imam Hairon





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *