Kemiskinan di Gunungsitoli Masih Tinggi, Bang YD: Jangan Tunggu Kaya Baru Peduli
Caption foto: Potret Yusman Dawolo saat memanggul beras demi warga kecil yang diam-diam sedang berjuang melawan kerasnya hidup (Foto: Arro Zebua//Suaraindonesia.co.id)
Suara Indonesia || Gunungsitoli — Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak masyarakat di Kepulauan Nias, Tokoh muda asal Nias, Yusman Dawolo atau yang akrab disapa Bang YD, kembali menyuarakan pesan kemanusiaan yang menyentuh hati: kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu kaya.
Pesan itu disampaikan Bang YD saat menyimak tingginya angka kemiskinan yang hingga kini masih membayangi Kota Gunungsitoli dan wilayah Kepulauan Nias secara umum.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, tingkat kemiskinan di Kota Gunungsitoli tercatat mencapai 13,85 persen atau sekitar 21 ribu jiwa. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh kota di Provinsi Sumatera Utara. Sementara itu, sejumlah daerah lain di Kepulauan Nias juga masih menghadapi masalah serupa. Kabupaten Nias Barat tercatat memiliki angka kemiskinan sebesar 22,47 persen, Nias Utara 20,79 persen, Nias Selatan 16,16 persen, dan Kabupaten Nias 14,51 persen.
Namun menurut Bang YD, angka statistik tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil masyarakat di lapangan. Ia menilai kondisi sesungguhnya justru lebih parah dari data statistik BPS diatas, bisa saja dalam mekanisme pendataan mereka dicatatkan tidak masuk kategori miskin.
“Kalau kita turun langsung ke lapangan, melihat kondisi masyarakat secara nyata, jumlah warga yang hidup susah sebenarnya jauh lebih banyak. Banyak yang setiap hari berjuang diam-diam hanya untuk makan dan bertahan hidup,” ujar Bang YD dalam keterangannya kepada Suara Indonesia, Selasa (26/5/2026).
Melihat kondisi tersebut, Bang YD mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan rasa kemanusiaan di tengah sulitnya keadaan ekonomi saat ini.
“Jangan menunggu kaya baru mau berbagi. Kalau menunggu kaya, bisa-bisa kita tidak pernah berbagi. Hanya dengan berbagi, hidup kita terasa lebih berarti. Banyak rakyat hari ini menangis diam-diam karena kesulitan ekonomi,” katanya.
Menurut dia, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi harapan besar bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan hidup. Oleh karena itu, budaya gotong royong dan kepedulian sosial harus terus dijaga agar masyarakat tidak merasa sendiri menghadapi tekanan ekonomi.
Ia mengaku prihatin melihat masih banyak keluarga kurang mampu, anak-anak, hingga orang lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian.
“Kadang bagi kita bantuan itu kecil, tetapi bagi orang yang sedang kesusahan, itu bisa menjadi penyelamat hidup mereka hari itu,” ujarnya.
Bang YD juga menganggap sebagian pihak yang menilai kegiatan sosial tidak perlu dipublikasikan di media sosial. Menurut dia, publikasi kegiatan berbagi justru dapat memotivasi orang lain untuk ikut peduli dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau diposting lalu membuat banyak orang tergerak untuk membantu, itu hal yang baik. Yang penting niatnya ikhlas. Karena urusan hati hanya kita dan Tuhan yang tahu,” katanya.
Sosok Bang YD sendiri dikenal luas sebagai figur muda asal Pulau Nias yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Pria kelahiran Desa Seriwau, 10 Desember 1983 itu berasal dari keluarga sederhana yang hidup sebagai nelayan dan petani.
Perjalanan hidupnya sering menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Nias. Dari keterbatasan ekonomi, ia berhasil menempuh pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Komunikasi Islam di STID Mohammad Natsir Jakarta, menyelesaikan Magister Komunikasi Islam di Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta, dan mendapatkan Dr. (HC) dari UIPM Malaysia.
Selain aktif di bidang usaha, belajar kepada berbagai coach dibidang bisnis, seperti kepada Hermanto Tanoko orang terkaya di Indonesia, Coach Dr. Fahmi, Coach Dr. Armala, dll, Bang YD juga dikenal membangun berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ia disebut aktif membantu masyarakat kurang mampu melalui berbagai program kemanusiaan.
Pesan kepedulian yang disampaikan Bang YD kini mulai ramai diperbincangkan masyarakat dan warganet di media sosial. Banyak yang menilai pesan tersebut menyentuh hati, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Bang YD menegaskan bahwa membantu sesama tidak harus menunggu menjadi orang kaya. Menurut dia, kepedulian dapat dimulai dari hal-hal kecil dan dari siapa saja yang memiliki niat baik untuk membantu.
“Mau membantu secara terang-terangan silakan, mau diam-diam juga silakan. Tidak perlu saling menyalahkan. Yang paling penting adalah masyarakat tetap memiliki kepedulian untuk berbagi,” ujarnya.
Ia berharap semangat gotong royong dan solidaritas sosial tetap hidup di tengah masyarakat Kepulauan Nias. Sebab, menurutnya, kekuatan suatu daerah tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian antarwarga.
“Tangan yang membantu akan selalu lebih mulia daripada mata yang hanya menonton,” tutup Bang YD. (A1)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Arozatulo Zebua |
| Editor | : Alfiana Putri |
