October 16, 2026

Indowood Expo 2026 Surabaya Dorong Transformasi Industri Kayu Berbasis Teknologi

0


News
Indowood Expo 2026 Surabaya Dorong Transformasi Industri Kayu Berbasis Teknologi

Pembukaan Indowood Expo 2026 di Surabaya/ (Sudarmadji untuk Suara Indonesia)

BERITA PLUS, SURABAYA – Pameran teknologi pengolahan kayu dan industri mebel, Indowood Expo 2026, kembali digelar di Grand City Surabaya. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, ajang berskala nasional ini menjadi wadah percepatan transformasi industri kayu dan mebel melalui pemanfaatan teknologi modern guna meningkatkan daya saing di pasar global.

Pameran yang berlangsung hingga 6 Juni 2026 tersebut menghadirkan ekosistem industri terintegrasi di area seluas 4.000 meter persegi. Puluhan merek teknologi, mesin produksi modern, perangkat lunak industri, hingga pemasok bahan baku turut ambil bagian untuk memperkuat rantai pasok sektor pengolahan kayu nasional.

Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, mengatakan penyelenggaraan tahun ini difokuskan pada peningkatan efisiensi, presisi, dan produktivitas industri manufaktur nasional. Menurutnya, penerapan otomasi dan sistem produksi berbasis teknologi menjadi kebutuhan mendesak bagi industri kayu dan mebel Indonesia agar mampu bersaing dengan negara-negara produsen utama dunia.

“Selain pameran, kami juga menghadirkan seminar dan forum diskusi industri yang membahas berbagai inovasi manufaktur, pembiayaan, serta perkembangan teknologi terbaru untuk mendukung pertumbuhan industri nasional,” ujar Daswar Marpaung, Kamis (4/6/2026).

Pelaku industri menilai transformasi teknologi menjadi faktor penentu dalam mencapai target pertumbuhan sektor mebel dan kerajinan nasional. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menegaskan bahwa keberhasilan industri tidak hanya diukur dari nilai transaksi selama pameran, melainkan dari terbentuknya ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan.

Menurut Abdul Sobur, Indonesia menargetkan pendapatan industri mebel dan kerajinan melampaui 6 miliar dolar AS. Namun, target tersebut sulit dicapai tanpa dukungan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga modernisasi teknologi produksi.

“Target pendapatan industri mebel dan kerajinan kita berada di atas 6 miliar dolar AS. Target tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya ekosistem pendukung yang kuat, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga transformasi teknologi produksi. Kita harus belajar dari negara lain seperti China yang mampu membangun integrasi ekosistem industri secara matang sehingga kapasitas ekspornya jauh lebih besar,” kata Abdul Sobur.

Ia juga menilai Surabaya memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pameran industri kayu dan mebel nasional, terutama dalam mendukung pertumbuhan industri di wilayah Indonesia timur. Keterbatasan kapasitas venue pameran skala besar di Jakarta menjadi salah satu alasan perlunya memperkuat penyelenggaraan pameran industri di Jawa Timur.

Dukungan terhadap pengembangan industri tersebut juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Junadi, mengungkapkan bahwa Pemprov Jatim tengah menyiapkan kawasan strategis seluas 50 hektare di Kletek, Kabupaten Sidoarjo, yang terhubung langsung dengan akses jalan tol.

Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat pengembangan ekosistem industri yang mendukung promosi, distribusi, hingga aktivitas bisnis para pelaku usaha manufaktur dan pengolahan kayu.

Junadi menjelaskan bahwa struktur ekonomi Jawa Timur saat ini telah mengalami transformasi signifikan dari sektor primer menuju sektor manufaktur. Pertumbuhan ekonomi pascapandemi tercatat mencapai 5,8 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

“Saat ini sektor manufaktur memberikan kontribusi sekitar 34 persen terhadap struktur ekonomi Jawa Timur, sementara sektor pertanian berada di kisaran 11 persen. Ini menunjukkan kebutuhan akan infrastruktur pendukung industri, termasuk ruang pameran dan penguatan tata kelola sektor hilir, semakin besar,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga melalui kerja sama perdagangan antardaerah. Pasokan kayu log dari luar pulau untuk industri pengolahan di Gresik, Lamongan, Pasuruan, dan Probolinggo disebut masih berada dalam kondisi aman.

Jawa Timur juga mencatat peredaran kayu dari luar daerah mencapai sekitar 100 juta meter kubik, menjadikannya salah satu pusat industri kehutanan terbesar di Indonesia setelah Riau.

Untuk menjawab tuntutan pasar internasional yang semakin ketat, khususnya dari Uni Eropa, Pemprov Jatim saat ini mempercepat digitalisasi pengelolaan hutan rakyat. Program tersebut mencakup penerapan sistem uji tuntas (due diligence), penguatan sertifikasi, serta pemanfaatan teknologi geolokasi guna meningkatkan transparansi dan ketertelusuran sumber bahan baku.

“Kami sedang mengoptimalkan sertifikasi hutan rakyat pada lahan spasial seluas 617.000 hektare. Langkah ini penting untuk memenuhi standar yang dipersyaratkan pasar Uni Eropa sekaligus menjaga tata kelola kehutanan yang berkelanjutan di Jawa Timur,” pungkas Junadi.

Melalui sinergi antara pelaku industri, penyelenggara pameran, dan pemerintah daerah, Indowood Expo 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi bisnis, tetapi juga momentum percepatan modernisasi industri kayu dan mebel nasional agar mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar ekspor global.***

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *