Kemenko Pangan Pilih Banyuwangi Kembangkan Dashboard Beras Nasional
Bupati Ipuk Fiestiandani menerima kunjungan Kemenko Pangan dan BRIN dalam pembahasan pengembangan Dashboard Rice Journey di Banyuwangi. (Foto: Istimewa).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi ditunjuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebagai daerah percontohan pengembangan sistem pemantauan pangan nasional berbasis data. Program tersebut diwujudkan melalui pengembangan Dashboard Rice Journey yang akan menjadi pendukung pengambilan keputusan di sektor perberasan.
Penunjukan itu disampaikan Staf Ahli Menko Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan Sugeng Santoso dalam rapat koordinasi bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta jajaran Pemkab Banyuwangi, Senin (6/7/2026).
Sugeng menjelaskan, pengembangan sistem tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mencapai target peningkatan Indeks Ketahanan Pangan Nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
“Salah satunya pemerintah akan mengembangkan decision support system (DSS) berupa Dashboard Rice Journey. Dashboard ini akan memberikan masukan sebagai bahan pengambil kebijakan, khususnya beras secara cepat, tepat dan berbasis data,” kata Sugeng.
Menurutnya, dashboard akan menyajikan data secara real time untuk membantu pemerintah membaca berbagai potensi persoalan, mulai dari risiko penurunan produksi, kenaikan harga, hingga kemungkinan kelangkaan beras di suatu wilayah.
Sistem tersebut juga akan menganalisis faktor penyebab yang memengaruhi kondisi pangan, seperti produksi, stok, distribusi, penggilingan padi, logistik, cuaca, maupun perilaku pasar. Seluruh data kemudian diolah menjadi dasar penyusunan berbagai skenario kebijakan.
“Dashboard tidak hanya mampu mendeteksi potensi gangguan secara dini, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat, mengevaluasi kualitas bukti, mensimulasikan berbagai skenario kebijakan, serta menghasilkan rekomendasi intervensi yang tepat sasaran,” terangnya.
Banyuwangi dipilih karena dinilai memiliki ekosistem yang mendukung pengembangan sistem tersebut. Selain menjadi salah satu daerah produsen beras nasional, Banyuwangi juga dinilai aktif melakukan pengendalian distribusi pangan dan inflasi, serta memiliki tata kelola pemerintahan berbasis teknologi informasi yang telah berjalan baik.
Sugeng mengatakan hasil pengembangan sistem di Banyuwangi nantinya akan menjadi model yang dapat diterapkan di berbagai daerah lain sebagai bagian dari penguatan tata kelola pangan nasional.
“Program ini akan menjadi kolaborasi dan sinergi antara Kemenko Pangan dan Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan tata kelola pangan yang lebih baik. Nantinya model yang dikembangkan di Banyuwangi akan menjadi model dashboard bagi daerah lainnya,” ujar Sugeng.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan pemerintah daerah siap mendukung pelaksanaan program tersebut dan berkolaborasi dengan Kemenko Pangan dalam pengembangan Dashboard Rice Journey.
“Terima kasih atas kepercayaan Kemenko Pangan pada Banyuwangi. Semoga kolaborasi ini akan menghasilkan kebijakan tata kelola pangan berbasis kondisi wilayah untuk memaksimalkan produksi pangan nasional,” ujar Ipuk. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Alfiana Putri |
