Bahas Pesantren dan Industrialisasi di Gresik, Menko Cak Imin Pesan Ini
Menko Abdul Muhaimin Iskandar saat berkunjung di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. (Foto: Rifki/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, GRESIK – Menko Pemberdayaan Masyarakat (PM) Abdul Muhaimin Iskandar menyebut dunia pondok pesantren (Ponpes) harus mampu beradaptasi di era industrilisasi, terutama di Kabupaten Gresik yang menjadi basis pertumbuhan industri-industri besar.
Sehingga pesantren bisa mengambil peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menyesuaikan kebutuhan dunia industri.
Pria yang akrab disapa Cak Imin itu menegaskan pentingnya menempatkan pesantren sebagai ekosistem utama penanggulangan kemiskinan dan penggerak ekonomi daerah yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Penguatan ekonomi berbasis pesantren dan masjid ini diharapkan menjadi solusi konkret agar masyarakat lokal dapat menikmati langsung hasil kemajuan ekonomi dan tidak sekadar menjadi penonton di tengah pesatnya industrialisasi daerah.
“Tidak ada ekosistem yang paling kuat dan mengakar kecuali pesantren di Tanah Air kita, sehingga ekosistem penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan yang sangat siap itu adalah pesantren,” jelas Cak Imin saat berkunjung di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Minggu (9/8/2026).
Pesan Cak Imin setidaknya mirip dengan topik yang dibahas dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” yang digelar Local Media Network (LMN) di D’jiwana Caffe, Kecamatan Dukun, Kabupaten pada Selasa (28/7/2026) lalu.
Diskusi yang mendatangkan sejumlah narasumber kompeten itu dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai akademisi hingga masyarakat lokal.
Dalam diskusi tersebut, tokoh masyarakat Kecamatan Dukun, Agus Ahmad Musfis Salam atau Gus Salam sebagai salah satu narasumber menyebut pesantren di Gresik harus mulai membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan sebagai bentuk respons terhadap perubahan zaman.
Langkah tersebut dinilai penting agar para santri memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Pesantren harus menjawab tantangan zaman. Banyak yang membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan agar para santri memiliki bekal yang cukup ketika memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa industrialisasi juga memunculkan persoalan sosial baru, mulai dari perubahan pola pendidikan, berkurangnya pengawasan orang tua akibat jam kerja panjang, hingga tantangan moral di lingkungan masyarakat industri.
“Karena itu, pesantren tidak cukup hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi benteng moral dan pusat pembinaan karakter generasi muda,” tegasnya.
Diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa industrialisasi dan identitas Gresik sebagai Kota Santri tidak harus dipertentangkan.
Para narasumber sepakat bahwa kolaborasi antara pemerintah, pesantren, tokoh agama, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai religius. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Rifki Ahmad |
| Editor | : Alfiana Putri |
