Festival Dolanan Anak Nusantara SMP Pius Cilacap: Tanamkan Nilai Gotong-royong hingga Kejujuran
Siswa saat memainkan permainan rangku alu dari Flores, Nusa Tenggara Timur dalam Festival Dolanan Anak Nusantara di SMP Pius Cilacap. (Foto: Galih/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, CILACAP – Halaman SMP Pius Cilacap, dipadati ratusan siswa, Kamis (13/8/2026). Mereka tampak asik bermain aneka permainan tradisional bersama.
Keseruan pun terlihat. Siswa kelas 7 hingga 9, yang terbagi dalam 15 kelompok, mereka tampak antusias bermain masing-masing permainan tradisional dalam kegiatan Festival Dolanan Anak Nusantara.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan karakter oleh yang dilakukan sekolah kepada anak didik, di tengah era digitalisasi saat ini, dengan memanfaatkan beragam permainan tradisional sebagai media edukatif untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.
Thomas Sutasman, Bagian Kesiswaan SMP Pius Cilacap mengaku, selain dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-81, kegiatan itu juga untuk melestarikan permainan tradisional agar tidak punah.
“Tujuan utama untuk mengenalkan kepada anak-anak, permainan tradisional yang ada di nusantara, serta menanamkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal bagi mereka,” ujar Thomas.
Thomas menyampaikan, terdapat sejumlah permainan tradisional yang dimainkan oleh para siswa dalam festival tersebut antara lain engklek, dam-daman, egrang, bekel, bakiak dan tusuk lidi.
Kemudian lompat tali, dakon atau congklak, gundu, kelereng dan ze-ze. Ada pula lompat batu. “Untuk pemandunya Bapak/Ibu guru yang ada di SMP Pius Cilacap,” ungkap Thomas.
Ia berharap melalui permainan tradisional ini, selain mendidik anak untuk mencintai budaya, juga mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
“Dan mudah-mudahan melalui kegiatan ini, permainan tradisional tidak punah. Artinya tetap lestari, apalagi anak-anak sekarang mempunyai perhatian yang lebih kepada layar digital, gadget dan lainnya,” kata Thomas.
“Kemudian dalam permainan tradisional ini, anak-anak bisa menimba nilai yang ada di dalam permainan seperti gotong-royong, asah otak, kejujuran dan sportivitas, lalu kesetiakawanan sosial,” lanjutnya.
Selain itu melatih motorik anak, sekaligus bagaimana anak berpikir untuk membuat strategi. “Kami mendorong sekolah lain di Cilacap, kalau bisa mengadakan festival seperti ini, karena ini merupakan suatu kearifan budaya,” pinta Thomas.
Pihaknya juga mendorong agar permainan tradisional ini dapat diintegrasikan dalam kurikulum atau mata pelajaran tertentu sebagai sarana belajar siswa.
“Misalnya di IPS, atau olahraga atau PJOK mungkin, itu bisa dimasukan disana. Jadi tidak hanya sekedar mengisi waktu karena ada nilai-nilai pendidikannya, dan ini juga salah satu pembinaan karakter buat anak-anak,” tutur Thomas.
Melihat antusiasme siswa, ke depan pihak sekolah berencana mengadakan kegiatan serupa, dengan aneka dolanan tradisional yang lain dan menarik minat siswa.
Sementara Ketua OSIS SMP Pius Cilacap, Cinta Christy Hitipeuw mengaku senang dapat memainkan permainan tradisional tersebut.
“Acaranya seru banget, tadi aku baru main gundu, dam-daman, egrang. Ini kan pasti sesuatu yang baru ya bagi kita. Karena selama aku di SMP Pius Cilacap ini baru pertama kali ada event seperti ini,” ujar Cinta.
“Pastinya bisa menambah wawasan buat kami dan bisa menambah kepedulian kami terhadap permainan-permainan jadul-jadulan jaman dulu,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Satria Galih Saputra |
| Editor | : Alfiana Putri |
