Luput Program Home Care, Merisa Tetap Berjuang Kesembuhan Menggunakan Becak
Team Work
– 25 August 2026 | 23:08 – Dibaca 208 kali
Marisa bersama keluarga menuju RSD dr.Soebandi menggunakan bentor (Foto: Alfiana/Suaraindonesia.co.i
BERITA PLUS, JEMBER – Terlihat seorang gadis belia menggunakan selimut merah dengan bantal di pangkuannya.
Namanya Merisa. Siswa yang saat ini duduk di bangku kelas X SMK Muhammadiyah 4 Kalisat.
Perempuan kelahiran Jember 14 April 201O ini, tinggal bersama orang tuanya di Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember.
Merisa adalah anak bungsu dari 3 bersaudara lain yang saat ini sudah tidak serumah karena berkeluarga.
D isampingnya, duduk seorang ibu mengenakan kerudung putih kombinasi bunga-bunga hitam yang tiada lain adalah Janati (50) ibu tercintanya terlihat lelah.
Di belakangnya, terlihat seorang laki-laki tua mengenakan topi bernama Seniman ayah kandungnya. Yang selalu setia, mengantarkan saat berobat ke RSD dr. Sobendi Jember.
Merisa, divonis mengalami penyakit gagal jantung kronis oleh tim medis, sehingga harus rutin kontrol seminggu dua kali ke rumah sakit.
Tidak banyak kata yang disampaikan Merisa, selain hanya ingin sembuh dan kembali bersekolah kembali seperti temannya yang lain.
Kata kedua orangtuanya, jika tidak datang kontrol, ancamannya adalah berdampak fatal dan membahayakan pada kesehatannya.
Beruntung, sang ayah memiliki becak tua yang tidak jelas warna catnya dimodifikasi dengan sepeda motor lawas bisa dibuat untuk mencari nafkah.
Penghasilan Seniman sendiri, tidak menentu hanya cukup untuk makan. Ya, terkadang harus pulang dengan tangan hampa karena sepi penumpang.
Baginya, kesehatan anak perempuannya adalah prioritas utama. Walaupun, kadang jatah makan harus dikurangi.
“Hanya berharap sama ALLAH semoga bisa dalam minggu ini bisamengantar merisa ke rumah sakit. Untuk kesembuhannya. Itu saja,” ungkapnya dengan nada lirih.
Tidak ada dokter atau petugas medis puskesmas yang datang. Tidak ada pihak puskesmas atau desa yang menawarkan ambulans.
Padahal, kata Seniman, apa yang dialami oleh anaknya, pak RT dan kampungnya tahu. Hanya saja, mungkin karena sibuk dirinya memakluminya.
“Sebagai warga miskin, kami lebih besar malunya. Kami hanya bisa diam menunggu sembari berdoa. Semoga ada kejaiban dan tangan malaikat mengulurkan bantuan,” harapnya.
Memang, sebelumnya ada ambulans relawan gratis pernah mengantarkan anaknya 4 kali ke rumah sakit.
Setelah itu, kata Slamet kami tetap harus berjuang sendiri bagaimana akan kami bisa kembali kontrol ke rumah sakit.
Program home care Gus Fawait, Slamet mengaku tidak tahu dan tidak paham program itu.
Ditanya program home care Bupati Fawait, Seniman menggeleng tidak tahu dan dianggap istilah asing di telinganya.
Puluhan mobil branding warna merah muda yang disiapkan Bupati Fawait yang disewa menggunakan APBD pun untuk kepentingan masyarakat, tetap tidak paham dan mengaku tidak mengikuti informasi itu.
Maklum saja, handphone yang dia gunakan hanya difungsikan untuk komunikasi saja menunggu penumpang langganan.
“Saya tidak tahu dan tidak paham itu. Tidak paham pak saya,” ucapnya dengan logat bahasa maduranya.
Yang terpenting, Bagi Seniman dirinya bisa dibantu untuk transportasi anaknya setiap kali kontrol ke rumah sakit.
“Kalau tidak bisa antar jemput, kami bisa dibantu ongkos bensin. Itu harapan saya ke Gus Fawait itu saja,” ucapnya tidak meneruskan kata-kata.
Merisa adalah salah satu dari ratusan warga miskin Jember yang bermimpi untuk mendapatkan kesembuhan yang masih terkesan luput dari perhatian.
Meskipun harus berusaha berjuang, Merisa tetap menjemput kesembuhan meskipun ditengah keterbatasan dan kekurangan.
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Team Work |
| Editor | : Alfiana Putri |
