October 16, 2026

MCF 2026 Jadi Ruang Regenerasi Budaya Jawa Timur, Bupati Sumenep Dorong Seni Tradisi Terus Beradaptasi

0


Budaya
MCF 2026 Jadi Ruang Regenerasi Budaya Jawa Timur, Bupati Sumenep Dorong Seni Tradisi Terus Beradaptasi

Tari pembuka penampilan Kesenian dari 13 kabupaten/kota se Jawa Timur. Foto: Prokopim Sumenep.

BERITA PLUS, SUMENEP – Madura Culture Festival (MCF) 2026 menjadi ruang bertemunya pelaku seni dari berbagai daerah sekaligus momentum untuk menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman. Kehadiran 13 kabupaten/kota dalam festival tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi seni tradisi untuk terus berkembang dan dikenal generasi muda.

Berbagai kesenian khas daerah ditampilkan dalam gelaran yang berlangsung di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep. Dari Madura hingga kawasan Tapal Kuda dan daerah lainnya, masing-masing membawa karakter seni yang mencerminkan sejarah, kehidupan, serta kearifan lokal masyarakatnya.

Kabupaten Sumenep menampilkan Tari Sonar Mosem Nemor, sementara Bangkalan membawa Tari Arojung Paseseran, Sampang dengan Tari Kerabhen Sape, dan Pamekasan menampilkan Tari Sandoreng. Daerah lainnya seperti Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Malang, Blitar, Probolinggo, Tuban, dan Nganjuk juga memperlihatkan kekhasan budaya masing-masing melalui karya seni yang dipentaskan di MCF.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menilai keberagaman tersebut menunjukkan bahwa seni budaya Jawa Timur memiliki kekuatan untuk terus berkembang apabila mendapat ruang yang cukup untuk ditampilkan dan diapresiasi masyarakat.

“Jawa Timur kaya dengan seni dan budaya yang merupakan bagian penting dari identitas setiap daerah,” kata Achmad Fauzi saat ditemui usai rangkaian MCF, Sabtu (29/08/2026) malam.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan kesenian tradisional. Keterlibatan generasi muda dan ruang kreativitas juga diperlukan agar budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa setiap kesenian memiliki karakter dan cerita yang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial masyarakat tempat budaya tersebut tumbuh. Karena itu, pengembangan seni perlu dilakukan dengan tetap memahami akar serta nilai yang terkandung di dalamnya.

Achmad Fauzi berharap MCF dapat menjadi agenda yang terus mempertemukan daerah, seniman, komunitas, dan generasi muda. Menurutnya, kolaborasi semacam itu penting untuk memperluas ruang berkarya sekaligus memastikan kekayaan budaya Jawa Timur tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya harus tetap hidup dan berkembang meskipun dengan inovasi mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” tandasnya.(*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Wildan Mukhlishah Sy
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *