Manajer Kopdes Merah Putih Blora Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi
Team Work
– 03 October 2026 | 15:10 – Dibaca 42 kali
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo. (Foto: Dok. Suara Indonesia)
BERITA PLUS, BLORA – Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendorong koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga administratif, tetapi mampu menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Manajer Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo, Dwi Febri Irawan, mengatakan manajer memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi ekonomi desa dengan anggota, pasar, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta berbagai sumber pembiayaan.
“Manajer harus menjadi penggerak bisnis. Bukan hanya mengurus administrasi koperasi, tetapi mampu membaca potensi desa dan mengembangkannya menjadi peluang usaha,” ujarnya, saat dihubungi pada Sabtu (3/10/2026).
Febri mengatakan dirinya telah mengikuti pelatihan dan pendidikan bagi manajer Kopdes selama sekitar satu setengah bulan di Jakarta, mulai 15 Juni hingga 31 Agustus.
Menurut dia, langkah awal yang perlu dilakukan manajer adalah memetakan potensi ekonomi desa, baik komoditas pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kebutuhan masyarakat maupun sumber daya lokal yang dapat dikembangkan.
Potensi tersebut, kata dia, kemudian dapat dikembangkan menjadi unit usaha koperasi, seperti perdagangan sarana produksi pertanian, pemasaran hasil pertanian, distribusi kebutuhan pokok, jasa, pergudangan, maupun pengolahan pascapanen.
Ia mencontohkan aktivitas Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo yang mulai terlibat dalam distribusi kebutuhan pangan untuk mendukung operasional SPPG di desa setempat.
“Pertama, Kopdes mengambil beras dari Bulog sebanyak satu ton dan minyak goreng Fortune sebanyak 30 dus untuk disalurkan ke SPPG Sarirejo. Kebutuhan minyak goreng Fortune sekitar empat sampai lima karton per hari,” katanya.
Untuk pemenuhan kebutuhan barang selanjutnya, kata dia, Kopdes juga mendapatkan pasokan dari pihak lain, termasuk Agrinas. Pengelolaan distribusi tersebut dilakukan sesuai mekanisme kerja sama dan pelaporan yang telah ditetapkan.
Menurut Febri, keterlibatan koperasi dalam rantai pasok tersebut menunjukkan bahwa Kopdes memiliki peluang menjadi penghubung antara penyedia barang, masyarakat, dan unit layanan ekonomi di desa.
Ia menilai Kopdes juga memiliki peluang memperkuat posisi masyarakat desa dalam mengakses pasar.
“Kalau masyarakat mampu memproduksi tetapi kesulitan memasarkan, koperasi bisa menjadi penghubung dengan pasar. Dengan begitu, posisi tawar anggota juga bisa lebih kuat,” katanya.
Febri mencontohkan, ketika desa memiliki banyak petani, koperasi tidak cukup hanya menyediakan pupuk atau kebutuhan produksi. Manajer dapat mengonsolidasikan kebutuhan anggota, membantu meningkatkan standar produksi, menampung hasil panen, mencari pembeli hingga mengatur distribusi.
Dengan pola tersebut, koperasi dapat terlibat dalam rantai ekonomi mulai dari penyediaan kebutuhan produksi hingga pemasaran hasil, sehingga nilai tambah dari aktivitas ekonomi masyarakat dapat lebih banyak berputar di desa.
Selain kemampuan bisnis, menurut dia, manajer Kopdes harus memiliki kemampuan mengelola keuangan. Hal itu mencakup penyusunan anggaran, pengelolaan arus kas, pencatatan transaksi, pengendalian biaya, dan analisis kelayakan usaha.
Manajer juga perlu membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perbankan, distributor, pelaku usaha, hingga offtaker untuk memperluas akses pasar dan pembiayaan.
“Manajer harus mampu membangun jaringan. Koperasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa kemitraan,” ujarnya.
Febri menambahkan kemampuan digital juga menjadi kebutuhan dalam pengelolaan Kopdes, terutama untuk pencatatan keuangan, pengelolaan inventori, pembayaran, pemasaran, dan pelaporan.
Sementara dari sisi kualifikasi, ia menilai seorang manajer Kopdes tidak cukup hanya memiliki latar belakang pendidikan tertentu. Kemampuan manajemen, bisnis, keuangan, pemahaman tentang koperasi, kepemimpinan, komunikasi, dan integritas juga menjadi faktor penting.
“Yang paling penting adalah kombinasi antara kemampuan bisnis dan pemahaman terhadap prinsip koperasi, serta integritas dalam mengelola usaha dan keuangan,” katanya.
Ia berharap Kopdes Merah Putih dapat berkembang menjadi institusi ekonomi yang benar-benar memberikan manfaat kepada anggota dan masyarakat, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.
Menurutnya, pola yang perlu dibangun adalah potensi desa dikonsolidasikan melalui anggota, kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mendapatkan akses pasar, dan menghasilkan transaksi melalui koperasi.
“Tujuan akhirnya bagaimana koperasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa dan memberikan manfaat kembali kepada anggota,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Team Work |
| Editor | : Alfiana Putri |
