Dari Anak Pemalu Menjadi Juara, Shanessa Maldiva Khu Menyandang Mahkota Putri Cilik Jawa Timur 2026
Jefri Hadi
– 13 October 2026 | 22:10 – Dibaca 0 kali
Pemenang Putri Cilik Jawa Timur 2026, Shanessa Maldiva Khu usia 10 Tahun Multi Talenta. (Foto: dok. Suara Indonesia)
BERITA PLUS, SURABAYA – Beranilah bermimpi dan jangan pernah takut akan kegagalan. Ketika takut gagal, kita juga bisa takut mencoba lagi dan bermimpi besar. Karena itu, jangan melewatkan kesempatan dan peluang.
Pesan Shanessa Maldiva Khu tersebut lahir dari pengalamannya sendiri. Di usia 10 tahun, perwakilan Kota Surabaya itu berhasil menyandang gelar Winner Putri Cilik Jawa Timur 2026 setelah melewati proses panjang untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kemampuan, dan belajar menerima kekalahan.
Shanessa dinobatkan sebagai pemenang dalam malam Grand Final di Graha Sawunggaling, Surabaya, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ia mengungguli finalis lainnya, dengan Ciera Raffasya Atmaja sebagai 1st Runner Up dan Azalea Ufaira sebagai 2nd Runner Up. Kompetisi tersebut diselenggarakan Ryo Management. Namun, mahkota itu bukan sekadar simbol kemenangan.
Di balik penampilannya di panggung, Shanessa pernah menjadi anak yang pemalu dan gugup ketika harus berbicara di hadapan banyak orang.
Ketertarikannya pada dunia modeling dimulai sejak usia empat tahun, tetapi keberanian tampil tumbuh melalui latihan dan pengalaman yang terus dijalaninya.
Sebelum meraih gelar tersebut, Shanessa juga berjuang mengembangkan kemampuan melalui ajang Puteri Anak Jawa Timur 2026.
Ia kembali mempersiapkan diri sejak September bersama agensi pendukungnya, mengasah penampilan sekaligus melatih kesiapan mental.
Salah satu momen yang menarik perhatian juri adalah penampilannya dalam sesi Gala Dinner. Shanessa mengenakan busana yang mengangkat keindahan warisan budaya Bali.
Tantangan berikutnya datang pada babak Top 3 tanya jawab atau question and answer (Q&A), ketika peserta dituntut memahami pertanyaan dan menjawab secara spontan di hadapan juri.
Keberhasilannya melewati tahapan tersebut mengantarkannya menjadi pemenang. Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
Shanessa mengaku juga pernah mengalami kekalahan dalam kompetisi lain dan sempat bersedih.
Ia kemudian memilih kembali berlatih dan memperbaiki kekurangan daripada menyerah.
Di balik proses itu, dukungan keluarga menjadi bagian penting.
Sebagai orangtua, ibunya, Cyntia Raharja Surya, menceritakan bagaimana ia dan suaminya, Steaven, mendampingi Shanessa sejak kecil untuk mengembangkan bakat sekaligus membentuk sikap.
“Sebelum tampil di panggung, kami selalu menyemangati dia agar tidak pantang menyerah dan percaya diri bahwa dia pasti bisa melakukannya,” ujar Cyntia.
Menurutnya, dukungan orang tua tidak berhenti ketika anak selesai tampil atau berhasil meraih penghargaan. Keluarga juga mengajarkan Shanessa agar tetap rendah hati ketika menang dan tidak larut dalam kesedihan ketika kalah.
“Di atas langit ada langit. Masih banyak yang lebih hebat dari dia. Karena itu, dia harus tetap rendah hati, terus belajar, dan meningkatkan kualitas diri,” tuturnya.
Cyntia juga membiasakan diri merekam penampilan Shanessa agar dapat ditonton kembali.
Melalui rekaman tersebut, anaknya bisa mengevaluasi kekurangan dan belajar memperbaiki penampilan berikutnya.
Ketika menghadapi kekalahan, Shanessa diberi ruang untuk bersedih, tetapi juga didorong untuk bangkit dan mencoba lagi.
Pendampingan itu berjalan beriringan dengan aktivitas Shanessa di luar panggung. Selain modeling dan pageantry, ia mengembangkan kemampuan menyanyi dan menari.
Ia percaya musik dapat menghadirkan kebahagiaan, membantu seseorang melewati kesedihan, serta mendorong kreativitas.
Pengalamannya mengikuti peragaan busana di Surabaya, Bali, Yogyakarta, Malang, dan Batu turut memperluas wawasannya.
Salah satu yang paling berkesan adalah Bali International Fashion Week, yang memberinya kesempatan mengenal dunia mode berskala internasional dan bertemu orang-orang dari luar Indonesia.
Sejalan dengan berbagai kegiatan tersebut, Shanessa tetap berusaha menyeimbangkan pendidikan dan pengembangan bakat.
Sebagai siswi Elyon Christian School di Jalan Sukomanunggal, Surabaya, ia membagi waktu untuk sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, dan berlatih modeling pada hari kerja.
Akhir pekan digunakan untuk bermain, beribadah di gereja, berkumpul bersama keluarga, dan beristirahat.
Shanessa merasakan perubahan dalam dirinya. Ia kini lebih percaya diri, disiplin, dan berani.
Selama berproaes menempa potensi diri, ia juga mulai mengenali bakat terpendam lain, termasuk kemampuan berbicara di depan publik dan membuat konten.
Kelak, Shanessa ingin dikenal sebagai penyanyi, penari, model, sekaligus pembuat konten yang dapat menginspirasi orang lain.
Baginya, mahkota Putri Cilik Jawa Timur 2026 bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Perjalanan Shanessa memperlihatkan bahwa keberhasilan anak tidak hanya bertumpu pada bakat atau kemenangan di panggung.
Ada latihan yang berulang, kegagalan yang harus diterima, serta keluarga yang mendampingi tanpa menjadikan mahkota sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Dari proses itulah Shanessa belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah takut, melainkan kesediaan untuk terus mencoba dan tumbuh menjadi lebih baik. (Adv)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Satria Galih Saputra |
