Bupati Sumenep Soroti Literasi Digital Generasi Muda di Tengah Disrupsi Informasi
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, SUMENEP – Derasnya arus informasi di media sosial membuat kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting, terutama bagi generasi muda. Tidak semua informasi yang beredar dapat langsung dipercaya, sehingga pengguna dituntut lebih kritis sebelum menerima maupun menyebarkannya.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Ia meminta generasi muda memiliki kecakapan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
“Yang pertama, harapan kami sebagai pemerintah ingin menyampaikan bahwa meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu, satu kesatuan,” kata Fauzi usai memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman Kantor Pemkab Sumenep, Kamis (1/10/2026).
Menurut Fauzi, keberagaman masyarakat Indonesia membuat kemampuan menjaga persatuan menjadi semakin penting. Tantangan tersebut kini tidak hanya muncul dalam interaksi sosial secara langsung, tetapi juga melalui ruang digital yang memungkinkan informasi menyebar dalam waktu singkat.
Karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dengan informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.
“Yang pertama, generasi muda, harus benar-benar bisa membedakan khususnya dalam, apa namanya, membaca era digitalisasi, karena di media sosial ini,” ujarnya.
Fauzi mengingatkan, tingginya intensitas penggunaan media sosial tidak boleh membuat masyarakat kehilangan sikap kritis. Setiap informasi yang diterima perlu dicermati terlebih dahulu sebelum dipercaya atau diteruskan kepada orang lain.
“Kan tidak semua pemberitaan itu benar adanya. Memang harus cerdas dalam media platformnya,” tegasnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi pada dasarnya dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat. Media sosial dapat menjadi sarana memperoleh pengetahuan, menyampaikan informasi publik maupun membangun komunikasi yang produktif.
Namun, ruang digital juga dapat dipenuhi informasi yang tidak benar apabila penggunanya tidak memiliki kecakapan dalam menyaring konten.
“Banyak juga yang tidak benar. Makanya harus benar memanfaatkan (media sosial) itu,” kata Fauzi.
Ia berharap generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang bertanggung jawab. Sikap kritis terhadap informasi, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas interaksi masyarakat di tengah perubahan teknologi.
Fauzi juga menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak semestinya berhenti pada pemahaman secara konseptual maupun kegiatan seremonial tahunan. Nilai persatuan dan kebersamaan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat beraktivitas di ruang digital.
“Peringatan ini jangan hanya seremonial. Pancasila pegangan seluruh rakyat Indonesia itu,” tandasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Wildan Mukhlishah Sy |
| Editor | : Alfiana Putri |
