October 16, 2026

Dieng Culture Festival 2026 Siap Digelar, Tradisi dan Musik Berpadu di Negeri di Atas Awan

0


Budaya
Dieng Culture Festival 2026 Siap Digelar, Tradisi dan Musik Berpadu di Negeri di Atas Awan

Satu lampion diterbangkan, ribuan cahaya menghiasi langit Dieng. Sebuah momen yang selalu dinanti wisatawan. (Foto: Dok Iwan Setiawan/ Suara Indonesia)

BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tak sekadar menawarkan kemeriahan festival di tengah dinginnya pegunungan. Di balik rangkaian pertunjukan budaya, musik, hingga wisata, terdapat semangat untuk menjaga tradisi sekaligus menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat Dieng.

Semangat itu dituangkan melalui tema “Spirit of Harmony” yang menjadi tema besar DCF 2026. Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-16 tersebut akan berlangsung 28–30 Agustus 2026.

Tema tersebut merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, serta alam sekitar.

Ketua Pokdarwis Pandawa sekaligus Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan konsep tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival tahun ini.

“Dieng Culture Festival lahir dari, oleh, dan untuk masyarakat. Kami ingin wisatawan yang hadir tidak hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga meresapi nilai budaya dan membawa pulang kebanggaan terhadap produk lokal Banjarnegara,” kata Alif dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).

Karena itu, berbagai kegiatan yang disiapkan tidak hanya berorientasi pada hiburan. Tradisi masyarakat Dieng tetap menjadi bagian utama dalam rangkaian festival.

Kirab Budaya dan Ruwatan Anak Gimbal menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan. Tahun ini, prosesi pencukuran rambut anak gimbal direncanakan melibatkan 13 anak dan dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna.

Tradisi tersebut juga dikemas melalui kirab yang mengajak wisatawan mengenakan pakaian adat Nusantara. Dengan cara itu, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat ikut merasakan atmosfer budaya yang menjadi identitas Dieng.

Semangat menjaga alam juga mendapat ruang melalui Aksi Dieng Bersih. Masyarakat bersama pemangku adat akan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penjagaan mata air, hutan, dan makam leluhur.

Di sisi lain, pemerintah daerah melihat DCF memiliki peran yang lebih luas bagi perkembangan masyarakat.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menilai DCF telah menjadi contoh bagaimana pariwisata berbasis masyarakat dapat berkembang tanpa meninggalkan akar budaya.

“Dieng Culture Festival adalah contoh nyata bagaimana ekosistem wisata berbasis masyarakat bisa tumbuh tanpa meninggalkan identitas budaya. Festival ini tidak hanya menjadi hiburan, juga menggerakkan ekonomi masyarakat, memberdayakan UMKM, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan kerja,” kata Amalia.

Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan pelaku UMKM dalam festival. Produk lokal seperti batik Banjarnegara, kerajinan caping, carica, purwaceng, dan kopi khas Banjarnegara akan mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada wisatawan.

Selain itu, pengunjung akan disuguhi Jazz Atas Awan yang menghadirkan Yura Yunita, Raim Laode, Kunto Aji, Barasuara, dan sejumlah musisi lainnya.

Penerbangan lampion juga kembali menjadi salah satu bagian yang dinantikan wisatawan, melengkapi pengalaman menikmati Dieng pada malam hari.

Dengan konsep tersebut, DCF 2026 berusaha mempertemukan dua sisi pariwisata Dieng. Di satu sisi, wisatawan mendapatkan hiburan dan pengalaman baru. Di sisi lain, masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga budaya sekaligus menikmati manfaat ekonomi dari geliat pariwisata.

Selama 28–30 Agustus 2026, Dieng tak hanya menjadi tempat berlangsungnya festival. Kawasan ini kembali menjadi ruang pertemuan antara budaya, alam, masyarakat, dan pariwisata dalam semangat “Spirit of Harmony”. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *