Bikin Gen Z Betah Ngaji, Maulid Nabi di SMP Negeri 4 Banjarnegara Dikemas dengan Musik
Ustaz Dio Diadon dari Gen Z Sedulur Ngopi Yogyakarta menyampaikan pesan keagamaan dengan pendekatan kreatif dan menyenangkan dalam peringatan Maulid Nabi di SMP Negeri 4 Banjarnegara, Rabu (26/8/2026). (Foto: Iwan Setiawan/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Pengajian biasanya identik dengan ceramah panjang dan suasana yang khidmat. Namun, anggapan itu coba diubah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Negeri 4 Banjarnegara.
Digelar Rabu (26/8/2026) di halaman SMP negeri 4 Banjarnegara, kegiatan ini menghadirkan Ustaz Dio Diadon dari Gen Z Sedulur Ngopi Yogyakarta. Pesan-pesan keagamaan disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak muda, yakni memadukan ceramah dengan musik dan vokal.
Bukan tanpa alasan. Cara ini dipilih agar siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menikmati proses belajar agama dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan.
Ustaz Dio Diadon mengatakan, mengenalkan agama kepada generasi Z sebenarnya cukup sederhana. Menurutnya, orang dewasa perlu memahami terlebih dahulu apa yang disukai anak muda.
“Untuk mengenalkan kepada Gen Z tentang agama itu mudah. Kita harus mengetahui apa yang mereka suka. Jika kita sudah mengetahui apa yang mereka suka, akan lebih mudah mengenalkan nilai keagamaan,” ujar Dio.
Ia juga mengajak generasi muda melihat Islam sebagai agama yang menyenangkan, membahagiakan, dan luar biasa. Salah satu caranya adalah meneladani Nabi Muhammad SAW melalui pendekatan yang sesuai dengan minat mereka.
“Mau lewat manapun, dari yang mereka suka,” katanya lagi.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 4 Banjarnegara, Suprianto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah meningkatkan kompetensi religius siswa sekaligus mendukung proses pembelajaran.
“Ini untuk meningkatkan kompetensi religius anak-anak, kemudian juga mendukung proses pembelajaran. Kami juga mempunyai program-program keagamaan yang rutin dilaksanakan,” kata Suprianto.
Menurut Suprianto, pembelajaran agama tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan di dalam kelas. Sekolah juga memiliki program hafalan Juz 30 dan 50 hadis yang dikemas melalui kegiatan literasi dan keagamaan, serta dilaksanakan dua kali dalam sepekan.
Ia menilai pendekatan yang memadukan unsur seni dan musik dapat menjadi cara untuk menarik perhatian siswa. Sebab, karakter dan kecerdasan anak juga berkembang melalui olahraga dan kesenian.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari siswa. Anggraeni Marsei Linda mengaku pengajian kali ini terasa berbeda dibandingkan kegiatan serupa yang biasa ia ikuti.
“Pengajian kan biasanya cenderung dengan ceramah, tapi kali ini ada gabungan antara musik dan vokal, dan dikemas dengan cara yang unik dan menyenangkan. Ustaz Dio juga sangat ramah,” ujar Anggraeni.
Ia berharap kegiatan seperti ini terus diagendakan di sekolah. Ilmu yang diperoleh pun ingin ia bagikan kepada lingkungan terdekat.
“Semoga kegiatan ini terus diagendakan. Ilmu yang saya dapat akan saya tularkan kepada keluarga, sahabat dan tetangga,” imbuhnya.
Perpaduan dakwah dan musik menjadi cara menyenangkan untuk mengenalkan nilai agama kepada generasi Z, agar pesan kebaikan lebih mudah diterima dan diterapkan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Iwan Setiawan |
| Editor | : Alfiana Putri |
