October 16, 2026

Cerita Memilukan Slamet, Warga Miskin Jember Ditengah Gemerlapnya Program Home Care

0



Redaksi
– 25 August 2026 | 06:08 – Dibaca 2 kali

Pelayanan Publik
Cerita Memilukan Slamet, Warga Miskin Jember Ditengah Gemerlapnya Program Home Care

Slamet bersama istrinya, Warga Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember saat mau berangkat ke rumah sakit memeriksakan anaknya

BERITA PLUS, JEMBER – Slamet (61) warga Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur mengaku Kecewa dengan pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember.

Slemet bercerita, bahwa anaknya laki-laki satu-satunya bernama Misyono (20) divonis memiliki penyakit kronis, sehingg diwajibkan harus kontrol ke rumah sakit seminggu dua kali.

Disatu sisi, Slamet harus bekerja menghidupi keluarga mencari nafkah, sebagai kuli bangunan. Disatu sisi harus berjuang untuk kesembuhan anaknya.

Bagi dia, menjadi kuli bangunan upah yang diterima hanya cukup buat makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Sakit yang diderita anaknya yang hampir setahun, cukup menyulitkan bagi keluarganya. Terutama transportasi menuju rumah sakit.

Berbekal motor bonceng dua dengan istrinya, sekali jalan, 100 ribu habis. Itu belum kalau bannya tiba-tiba di jalan kempes.

Maklum saja, selama antri berjam-jam dan menunggu butuh makan dan kebutuhan tidak terduga lainnya.

Tidak jarang, ketika sudah mau kontrol Slamet harus mencari pinjaman ke tetangga hanya demi untuk kesembuhan anaknya.

Kata Slamet, dia harus berangkat setelah subuh. Kalau tidak, dia akan menerima konsekuensi sendiri.

“Bisa kena tilang polisi dan bisa tidak kebagian kursi roda saat di rumah sakit. Itu pasti,” katanya, sambil menarik nafas panjang.

Sebenarnya, Slamet tahu, program kesehatan Bupati Fawait menggema di pidato-pidato dan dipampang di baner-baner besar.

Tetapi kepada dirinya dan keluarganya, program itu hanya menjadi pajangan dan tontonan yang terkesan menyakitkan.

“Bagaimana tidak sakit, saya pernah didatangi hanya difoto, dimintai data tetapi tidak ada tindaklanjutnya,” kembali Slamet bercerita.

Dengan pendataan berulangkali oleh petugas medis yang menjanjikan akan didatangi oleh dokter, justru dianggap merugikan bagi keluarganya.

“Kalau hanya didata saja, difoto saja kemudian tidak ada tindaklanjutnya. Kami rugi pak. Harusnya kami kerja jadi tidak kerja menunggu dan menunggu,” sambungnya.

Slamet kembali melanjutkan, kalau terkait data petugas kesehatan sudah berulang meminta dan mendata. 

“Sehingga mustahil jika tidak tahu. Masyarakat disini tahu. Tahu semuanya, ya begini nasib jadi orang tidak punya,” ungkapnya.

Melimpahnya mobil yang dibranding untuk melayani rakyat hingga sewa miliaran, justru membuat Slamet bertanya. Rakyat yang mana.

“Hanya membuat kami trauma. Karena membawa mobil ambulans itu harus bayar pak. Ini sangat mengecewakan kami,” kata Pak Slamet.

Slamet menaruh harapan kepada Bupati Fawait, agar melihat langsung dengan mata telanjang bukan hanya berbasis data.

“Penanganan jauh lebih penting dari data pak Fawait. Keselamatan lebih penting dari data. Tolong bantu kami uang transport jika tidak bisa antar jemput,” harapnya.

Misyono adalah salah satu contoh bagian kecil potret kemiskinan Kabupaten Jember yang membutuhkan pelayanan kesehatan gratis yang belum tersentuh secara utuh dari program Bupati Fawait.

Dari fakta di atas, masih terlihat bahwa syarat administrasi lebih diutamakan ketimbang pelayanan dan penanganan.

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Redaksi
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *