Ketapang Macet, 1.600 Kendaraan Tak Terangkut Imbas Pasang Surut Ekstrem
Antrean truk logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jumat (18/9/2026). (Foto: Muhammad Nurul Yaqin/suaraindonesia.co.id).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Antrean kendaraan kembali terjadi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dalam tiga hari terakhir setelah sebelumnya sempat landai. Pantauan di lapangan, Jumat (18/9/2026), antrean didominasi kendaraan logistik dan mengular hingga sekitar 5 kilometer dari pintu masuk Pelabuhan Ketapang.
Salah seorang sopir truk pengangkut buah, Yoyok, mengatakan kendaraannya sempat terjebak kemacetan sejak Kamis (17/9/2026) malam di kawasan Bangsring. Ia kemudian berada di penampungan Bulusan pukul 11.00 WIB dan baru mau pelabuhan pukul 17.00 WIB
“Tadi malam jam 10 malam kejebak antrean di Bangsring. Ini baru mau masuk (17.00) pelabuhan, tapi salah beli tiket. Saya kirim buah dari Jakarta ke Tabanan,” ucapnya.
Menurutnya, ia masuk di penampungan Bulusan sekitar pukul 11.00 WIB. Muatan buah tetap aman karena kendaraan dilengkapi pendingin. Ia mengaku sudah dua kali mengalami kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang. Sebelumnya, kondisi serupa terjadi saat arus Lebaran.
“Kalau normal dari Jakarta ke Tabanan itu 22 jam, ini lebih 35 jam. Dari Jakarta saya berangkat malam Kamis,” ujarnya.
General Manager ASDP Ketapang Media Syahrianto mengatakan, salah satu faktor utama yang memicu antrean kali ini adalah pasang surut ekstrem di Selat Bali. Kondisi tersebut membuat proses sandar kapal di dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk membutuhkan waktu lebih lama.
“Dua hari berturut-turut, cuaca cukup menghambat antrean kendaraan logistik khusus di dermaga LCM. Karena surut rendah yang terjadi 1,5 jam pada pagi hari, dan 1 jam pada sore hari, sehingga tidak bisa ngangkut (bongkar muat),” kata Media.
Menurut Media, kondisi tersebut menyebabkan sekitar 1.600 kendaraan tidak terangkut selama dua hari terakhir.
Untuk mengurai antrean, ASDP menggelar rapat bersama sejumlah stakeholder penyeberangan, antara lain BPTD, KSOP, kepolisian, Indonesia Ferry Operators Association (INFA), serta Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap).
Fokus penanganan saat ini diarahkan pada percepatan proses bongkar muat atau port time serta pengetatan jadwal perjalanan kapal. Langkah tersebut dilakukan untuk mengejar keterlambatan perjalanan akibat kendala cuaca beberapa hari sebelumnya.
“Kita berkomitmen melakukan percepatan port time yang semula sekitar 40 menit sebisa mungkin kita dorong menjadi 30 menit,” ujar Media.
ASDP juga mengkhususkan Dermaga LCM dan Dermaga 4 Ketapang untuk kendaraan logistik sebagai bagian dari upaya mempercepat penguraian antrean. Selain itu, skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) dengan pemanfaatan kapal berkapasitas besar terus dioptimalkan.
“Kami juga memohon kepada pengguna kendaraan, truk dan bus, maupun kendaraan pribadi untuk tetap bersabar. Ikuti sesuai aturan maupun arahan dari kepolisian di jalan,” pintanya.
Koordinator Satuan Pelabuhan (Korsatpel) BPTD Ketapang Tarto Saefullah menjelaskan, saat ini terdapat 23 kapal yang beroperasi secara reguler dan tiga kapal bantuan untuk menambah daya serap muatan.
Setiap kapal, kata dia, idealnya melayani 8 trip dalam kurun waktu 24 jam. Namun pada realisasinya, pencapaian berada di angka 6 hingga 7 trip karena adanya penyesuaian terkait faktor alam serta kendala teknis tak terduga, seperti penanganan kendaran rusak saat proses pemuatan.
Meski demikian, penerapan skema TBB pada kapal bantuan dinilai cukup efektif untuk menjaga daya serap muatan di tengah target trip yang belum terpenuhi maksimal.
“Kapal perbantuan yang diterapkan TBB cukup efektif untuk menambah daya serap kendaraan,” ucapnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Bahrullah |
