SPIDI Berangkatkan 35 Santri ke Makkah, Perkuat Pendidikan Al-Qur’an Bahasa Arab
Irman
– 13 October 2026 | 10:10 – Dibaca 0 kali
Siswa Spidi Makassar saat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. (Foto: Irman/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, MAKASSAR – Sekolah Pendidikan Islam (SPIDI) mulai merealisasikan program Hidup dan Belajar di Arab Saudi (SPIDI Makkah) dengan memberangkatkan 35 santri bersama lima pendamping menuju Makkah, Arab Saudi, Selasa (13/10/2026).
Selama 2,5 bulan, para santri akan mengikuti program pembelajaran yang mengintegrasikan pendalaman Al-Qur’an, penguatan bahasa Arab, dan pembentukan karakter kepemimpinan di Tanah Suci.
Rombongan angkatan pertama tersebut diberangkatkan dari Makassar menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Keberangkatan ini menjadi langkah konkret SPIDI dalam memperluas pengalaman belajar santri melalui pendidikan langsung di lingkungan masyarakat dan tradisi keilmuan Islam di Makkah.
Program ini dirancang tidak hanya untuk memperkaya wawasan keislaman dan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kemandirian, kedisiplinan, serta kematangan karakter santri melalui pengalaman hidup dan belajar di luar negeri.
Direktur SPIDI, Mukhlisah Arif, mengatakan pemilihan Makkah sebagai lokasi program merupakan bagian dari upaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih mendalam bagi para santri.
Menurutnya, keistimewaan Makkah tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai kota suci umat Islam, namun juga pada kesempatan bagi santri untuk menjalani kehidupan sehari-hari dalam suasana spiritual yang kuat.
“Mengapa Makkah? Karena Makkah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah tanah haram, tanah wahyu, tempat Ka’bah berdiri dan kiblat kaum Muslimin. Kita ingin anak-anak kita bukan hanya berkunjung ke Makkah, tetapi hidup, belajar, beribadah, dan bertumbuh dalam suasana spiritual tanah suci,” ujar Mukhlisah.
Ia menegaskan, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan santri dengan Al-Qur’an sekaligus membentuk perspektif keislaman yang lebih luas.
Proses pembelajaran di Tanah Suci juga menjadi kesempatan bagi para santri untuk mengembangkan potensi diri melalui interaksi langsung dengan lingkungan pendidikan setempat.
SPIDI Makkah bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pendalaman Al-Qur’an bersama para syaikh dan syaikhah, penguatan bahasa Arab bersama penutur asli (native speaker), serta pembentukan karakter kepemimpinan (leadership).
Program ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Jam’iyyah Al-Balad Al-Amin Al-‘Ilmiyyah Makkah bersama Syaikh Prof. Ali Salih Al-Mihmadi. Adapun asrama dan pusat kegiatan santri dipusatkan di kawasan Ar-Rajhi, An-Nasim, Kota Makkah.
Melalui tiga pilar tersebut, SPIDI berupaya menghadirkan pendidikan yang menghubungkan penguasaan ilmu, penguatan nilai-nilai keislaman, dan pengembangan kapasitas kepemimpinan.
Santri diharapkan tidak hanya mencapai peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Direktur SPIDI Makkah, Muthahhir Arif, mengatakan keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari pengalaman yang diperoleh santri selama berada di Arab Saudi. Hal yang lebih penting adalah perubahan positif yang mereka bawa kembali ke Indonesia.
“Harapan kami, ketika mereka kembali nanti, mereka tidak hanya membawa kenangan dari Makkah, tetapi membawa Makkah di dalam hati mereka; bahasa Arab yang lebih hidup, hubungan dengan Al-Qur’an yang lebih kuat, dan karakter kepemimpinan yang lebih matang,” kata Muthahhir.
Menurutnya, masa pembelajaran selama 2,5 bulan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya santri yang lebih percaya diri, mandiri, serta memiliki orientasi keilmuan dan spiritual yang kuat.
Pemberangkatan santri SPIDI Makkah berlangsung tiga hari setelah penyelenggaraan SPIDI Islamic Edufest and Grand Launching di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf (Gedung Manunggal), Makassar, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan peluncurannya menghadirkan ribuan orang tua santri serta sejumlah tokoh daerah, termasuk Bupati Maros Chaidir Syam dan Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham.
Keberangkatan angkatan pertama ini menjadi tindak lanjut dari peluncuran sekaligus penanda dimulainya pelaksanaan SPIDI Makkah.
Bagi lembaga pendidikan tersebut, program ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses pengalaman belajar santri melalui lingkungan pendidikan internasional yang berfokus pada penguatan ilmu dan karakter.
Di balik keberangkatan 35 santri itu, terdapat harapan orang tua dan para pendidik agar pengalaman di Tanah Suci menjadi bekal jangka panjang bagi masa depan mereka.
Para santri diharapkan kembali dengan kemampuan bahasa Arab yang lebih baik, pemahaman Al-Qur’an yang semakin kuat, serta karakter kepemimpinan yang berkembang.
Melalui SPIDI Makkah, SPIDI menempatkan pendidikan bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan di ruang kelas, melainkan juga sebagai pengalaman pembentukan diri.
Perjalanan dari Makassar menuju Makkah ini menjadi langkah awal untuk menguji sekaligus mewujudkan tujuan tersebut melalui pengalaman belajar secara langsung di Tanah Suci. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Irman |
| Editor | : Alfiana Putri |
